Final Piala Presiden antara Sriwijaya FC dengan Persib Bandung akan segera bergulir. Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta bergairah lagi.
Sebanyak 11 pekerja sibuk dengan kegiatan masing-masing di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Jumat (16/10/2015). Sebagian memotong rumput, yang lainnya menyebar vitamin. Sebagian lainnya lagi menyiram rumput. Tribun penonton tak luput dari pembenahan.
Dian Budiarto, salah satu pekerja Pusat Pengelola Kompleks (PPK) GBK, menyebut memotong dan menyiram rumput sudah menjadi tugas wajibnya, baik ada atau tidaknya pertandingan. Tapi, dia tak bisa menutupi kalau hari ini lebih bergairah dalam menyelesaikan pekerjaan rutin itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rupanya, itu karena Stadion Utama GBK kembali kepada kitahnya. Stadion Utama GBK bakal akan memanggungkan dua tim, Persib dengan Sriwijaya dalam final Piala Presiden, Minggu (18/10/2015) malam.
Dian tak peduli yang bermain bukan tim kesayangannya. Dia sudah gembira asal ada dua tim yang beradu kecepatan dan taktik di atasnya sebab seolah perawatan yang dilakukannya benar-benar sesuai untuk peruntukannya.
Ya, sudah hampir enam bulan lamanya SU GBK tak menggelar pertandingan sepakbola. Stadion yang diresmikan 1962 itu sempat bergairah tapi bukan oleh sepakbola, tapi untuk menggelar konser Bon Jovi, 11 September.
"Memotong rumput dan menyiram selalu saya lakukan seminggu sekali, pagi sore selama dua jam. Cuma kemarin saja rumput saya beri vitamin karena warnanya yang sudah mulai menguning bekas Bon Jovi kemarin," kata Dian di sela-sela kesibukannya itu.

"Kalau dibilang rindu saya sudah lama sekali ingin melihat pertandingan sepakbola di sini. Apalagi, ibaratnya kami yang merawat rumput lapangan ini. Makanya pas tahu laga final di sini, saya senang banget," ungkap Dian yang ternyata Aremania itu.
Matinya Stadion Utama GBK bahkan menjadi kelakar di media sosial. Lapangan Stadion Utama itu digambarkan menjadi sawah lengkap dengan petani yang menanam padi. Lainnya menggambarkan Stadion Utama menjadi tambak.
Sementara itu, Kepala Unit 1 Pusat Pengelola Kompleks (PPK) GBK, Tubani, menyebut perawatan itu memang sudah tugas rutin mereka.
"Tidak ada persiapan khusus, semua berjalan seperti biasa. Sementara untuk teknis semua diambil alih oleh pihak penyelenggara, Mahaka Sports and Entertaiment," kata Tubani.

Tubani lebih menggarisbawahi soal jalur evakuasi dan skenario pengamanan untuk pemain dan pelatih. Dia menyebut hanya menyediakan dua dari tiga pintu sebagai jalur evakuasi, yakni pintu merah dan pintu biru. Untuk pintu kuning bakal menjadi posko polisi.
"Untuk evakuasi standarnya menggunakan pintu merah dan biru, satu pintu lainnya, yaitu pintu kuning biasanya digunakan posko polisi. Dan karena semua masih manual jadi gunakan pintu yang ada. Tapi di setiap tribun itu ada pagar memutar, di setiap block itu kan ada pintu, jadi kalau ada apa-apa langsung ke pintu besar. Biasanya jika ada mobil ambulance itu sebagai tanda pintu keluarnya (Exit)," ucap dia.
(mcy/fem)











































