Football Legends Menang 4-3.
Biar Lawas, Mereka Tetaplah Bintang
Selasa, 01 Mar 2005 22:36 WIB
Jakarta - Pasukan bintang lawas yang rata-rata tubuhnya sudah melar memberi pelajaran kepada tim Indonesia All Star bahwa bermain santai tapi efektif kerap ampuh untuk melumpuhkan musuh.Demikian kira-kira gambaran pertandingan eksebisi yang melibatkan sekitar 20-an bekas bintang dunia dalam upaya menggalang dana amal untuk program pendidikan anak Aceh pasca bencana tsunami yang diberi tajuk "Aceh Tetap Sekolah" di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (1/3/2005) malam WIB.Sebagai sebuah permainan yang biasanya ada pihak yang kalah dan menang, tim "relawan" dari mancanegara yang antara lain dimotori oleh Marco Etcheverry itu keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 4-3.Namun, ada baiknya pertandingan ini lebih kental nuansa eksebisi dan hiburan. Tapi yang terjadi di lapangan terkesan tidak demikian karena tim Indonesia All Stars tampak sedikit terlalu menanggapi partai ini dengan serius.Tim yang dikomandoi pelatih Peter Withe itu menerapkan permainan pressing yang cukup tinggi. Alhasil, anggota tim Football Legends tidak leluasa mempertontonkan aksi individu, walaupun usaha tersebut sesekali tetap muncul.Kurniawan Dwi Yulianto cs, yang kondisi fisiknya jauh lebih bugar berkali-kali mencoba mendobrak pertahanan lawan dengan mengandalkan adu lari. Tentu saja hal ini sering membuat Perry Groves dkk, yang perutnya rata-rata sudah buncit, mesti bekerja ekstra keras untuk mengeluarkan keringat lebih banyak.Meski demikian para bintang tua itu memang masih mempesona. Kendati rata-rata usianya 40 sampai 50 tahun, tapi masih tampak jelas kepiawaian mereka dalam mengolah bola dan membaca permainan. Gerakan-gerakan mereka sangat efektif, sentuhan bola-bola pendeknya juga tetap memukau.Kapten Brasil saat menjuarai Piala Dunia 1994, Carlos Dunga, menjadi penyeimbang tim Football Legends, sementara Careca dan Etcheverry bertugas mendorong bola ke depan untuk diteruskan Mark Walters dan Marcelo Goncalves.Walters dan Etcheverry layak jadi bintang utama Football Legends berkat penampilannya yang menonjol. Etcheverry tampil kokoh dengan penetrasinya ke jantung pertahanan lawan dan mencetak satu gol. Adapun Walters menciptakan tiga gol alias hat-trick. Aksi Richard dan Rob Witschge, Warren Barton, Juan Barbas, Phil Neal, Ronnie Whelan dan John Collins juga cukup memikat. Tak ketinggalan kiper Bonetti. Kakek-kakek berusia 64 tahun itu main semangat di bawah mistar gawang, meskipun dua kali kebobolan oleh gol cantik Piyapong Pue-on dan Widodo C Putra. Gol pertama Indonesia All Star lahir di babak pertama melalui tendangan Syamsul Bachri Haeruddin ketika gawang Legends dikawal bekas kiper nasional Argentina, Luis Islas.Di kubu tuan rumah, tim didominasi pemain yang saat ini masih aktif. Bahkan sempat tim ini hanya menyisakan Ricky Yakobi, Marzuki Nyak Mad, dan kiper Edy Harto, sedangkan sisanya adalah para pemain timnas di Piala Tiger lalu. Pemain-pemain lawas lain di antaranya Patar Tambunan, Fachri Husaini, bintang Singapura Fandi Ahmad, dan bek legendaris Malaysia Zainal Abidin Hassan.Dua pemain Indonesia All Star yang paling menghibur adalah Edy Harto dan Piyapong. Yang pertama sempat ditertawakan penonton karena "kelupaan" menahan bola jauh di luar kotak penalti, sehingga dikartu merah. Adapun Piyapong, eks striker nomor satu Thailand, mencoba melucu dengan menutup mata wasit keempat saat terjadi pergantian pemain.Secara keseluruhan pertandingan berjalan menarik dan cukup seru. Sayang, jumlah penonton tidaklah banyak, hanya sekitar 15 ribuan, sehingga stadion terlihat kosong. Bagaimanapun kita patut angkat topi dan salut atas perhatian besar yang telah diberikan Football Legend pada kegiatan ini karena telah jauh-jauh mendatangi Indonesia, mencoba memberikan hiburan sekaligus menggalang dana amal. (mel/)











































