Pemerintah dinilai berhasil menjaga gairah persepakbolaan Indonesia di saat kondisi tengah carut marut usai pembekuan PSSI. Meski demikian, tetap ditunggu gebrakan selanjutnya agar kompetisi lokal bisa bergulir lagi.
Setelah pemerintah membekukan PSSI pada April lalu, FIFA lantas menjatuhkan sanksi kepada Indonesia karena dinilai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, sudah melakukan intervensi.
Otomatis kompetisi Liga Indonesia yang belum laga bergulir harus berhenti dan timnas Indonesia di segala level umur tidak bisa berkompetisi di turnamen yang berada di bawah naungan FIFA. Ini yang lantas membuat para pemain kehilangan mata pencariannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antusiasme tinggi hadir di turnamen tersebut. Para penggila sepakbola lokal seperti terpuaskan rasa dahaganya akan pertandingan-pertandingan yang biasa rutin disaksikan setiap pekannya sebelum turunnya sanksi FIFA.
Final Piala Presiden di Stadion Gelora Bung Karno yang berlangsung meriah, menjadi puncak kegairahan sepakbola nasional tahun ini. Di saksikan oleh Presiden Joko Widodo bersama ratusan ribu pencinta sepakbola nasional, Persib Bandung jadi juara usai mengalahkan Sriwijaya FC dengan skor 2-0.
"Sepakbola bisa berlangsung meriah berkat dukungan dari masyarakat, meski tidak ada PSSI," ujar Menpora saat mendampingi Presiden Jokowi menyaksikan laga final.
Piala Presiden merupakan turnamen kedua yang difasilitasi oleh pemerintah dengan menggandeng Mahaka operator turnamen, ketika PSSI βterbaring kakuβ. Sebelum Piala Presiden, ada Piala Kemerdekaan yang dimenangi PSMS Medan, yang di akhir turnamen muncul masalah soal telatnya hadiah untuk 'Tim Ayam Kinantan'.
Setelah Piala Presiden, turnamen level elit lain hadir yakni Indonesian Championship Piala Jenderal Sudirman yang kini sudah memasuki babak semifinal
Tidak hanya di level elit, Kemenpora juga menggelar dan memfasilitasi dihelatnya pertandingan sepakbola usia dini untuk menjaga roda pembinaan persepakbolaan. Ada Kejurnas antar PPLP, Liga Santri Nasional (LSN) U-17, maupun kelompok umur seperti Piala Menpora U-14.
Juga hadir berbagai ajang yang digelar oleh stakeholder lain seperti Liga Kompas Gramedia, Danone Cup, dan lainnya.
Namun demikian, menggairahkan sepakbola nasional tetap bukan tujuan akhir. Pemerintah tetap melihat ini sebagai bagian dari reformasi tata kelola sepakbola yang sebelumnya sudah carut marut, agar lebih baik ke depannya.
Diharapkan pada tahun 2016 mendatang, kondisi persepakbolaan nasional bakal lebih baik dan masalah yang ada akan segera tuntas, seperti yang diharapkan oleh banyak pesepakbola lokal. Karena yang mereka butuhkan bukan hanya turnamen-turnamen "tarkam", melainkan kompetisi rutin yang lebih menghadirkan aura persaingan yang ketat dan seru.
(mrp/nds)











































