Di Liga Indonesia beberapa tahun lalu, sempat ada bergulir dua kompetsi: Indonesia Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL). Munculnya dua liga itu akhirnya menimbulkan 'kisruh PSSI' jilid satu, yang sampai membuat FIFA membentuk komite normalisasi untuk memulihkan kondisi PSSI.
Pada prosesnya, kompetisi ISL yang bertahan. Sementara itu, IPL tinggal sejarah. Bahkan, beberapa klub yang belaga di IPL kini sudah tinggal kenangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedikitnya sudah ada tiga kompetisi yang sudah selesai di gelar, yakni Piala Presiden, Piala Jenderal Sudirman, dan Piala Kemerdekaan.
'Reinkarnasi' PT Liga Indonesia, PT Gelora Trisula Semesta (GTS), sudah berencana menggelar kompetisi ISC pada bulan April mendatang. Pertemuan dengan klub-klub untuk membahas aspek komersial atau subsisdi dan aturan kompetisi sudah dibahas GTS dengan para klub pada awal bulan ini.
Setelah ISC, Tim Transisi juga sedang mempersiapkan liga. Mereka mengumumkannya, Jumat (11/3/2016) siang, saat melakukan pertemuan dengan 40 klub, yang satu di antaranya adalah klub ISL, Semen Padang. Tim Transisi menegaskan bahwa cuma ada satu liga di tanah air, dan itu yang ada di bawah naungan Tim Transisi.
Soal rencana bergulirnya dua liga, sudah mendapat reaksi dari klub. Salah satunya klub Divisi Utama, Pro Duta FC. Pemilik klub, Sihar Sitorus, bilang bahwa dirinya saat ini sedang menuju de javu.
"Kalau ternyata dua kompetisi ini dua-duanya jalan, maka terjadi lagi break away league, maka itu kita ini sedang menuju proses deja vu. Jadi, kita pernah mengalaminya dan kembali mengalami hal yang sama tiga tahun kemudian. Bukan trauma, tapi seperti nonton film yang diulang," kata Sihar saat bertemu dengan pewarta di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jumat sore.
Soal itu, Pro Duta pun langsung menyatakan sikap. Mereka sudah melakukan pertimbangan dengan memandang beberapa aspek: otoritas, bisnis, dan nilai komersial. Mereka pun memilih untuk absen di dua kompetisi ISC maupun yang akan digelar Tim Transisi setelah menimbang dari aspek-aspek tersebut.
Poin otoritas menyangkut pembekuan PSSI, kekalahan Kemennora di kasasi Mahkamah Agung, munculnya operator baru PT GTS, kompetisi Tim Transisi, dan larangan PSSI bagi klub untuk memenuhi undangan Kemenpora. Sementara bisnis dan komersial berkaitan dengan subsidi Rp 850 juta dari PT GTS, dan besarnya biaya untuk menggelar kompetisi. Satu poin lagi adalah poin kriteria mengenai syarat mengikuti liga.
"Pro Duta FC memutuskan untuk tidak mengikuti kompetisi sampai poin-poin itu bisa terjawab dan mendapatkan kepastian penjelasan dari otoritas dan operatornya," tegas Sihar.
(cas/roz)











































