"Saya sangat menyesalkan dan mengutuk keras atas kejadian. Sakit hati saya ketika mendengar meninggalnya suporter," ujar Imam, mengomentari kericuhan dalam partai kompetisi Torabika Soccer Championship (TSC) itu.
Imam menilai insiden itu terjadi akibat tidak adanya kontrol keamanan. Ia kian gemas karena hal itu terjadi ketika pemerintah amat menginginkan perbaikan tata kelola sepakbola tanah air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menangani dan menghindari kejadian serupa, Menpora meminta kepada operator membuat regulasi yang jelas. Dia berharap operator tidak hanya menunggu laporan dari panpel tapi juga bekerja sama dengan aparat hukum.
"Ini butuh regulasi dan komitmen. Ini adalah warning terakhir ke operator. Ayo... kerja sama dengan aparat hukum, jangan hanya tunggu laporan dari Panpel," katanya.
"Kalau tidak, artinya ada pembiaran. Siapa pun pelakunya harus dihukum, meskipun pelakunya juga aparat hukum. Saya ingin lihat regulasinya, tindakan tegas kepada klub," sebut Menpora.
Dengan kejadian itu, Menpora menegaskan harus ada sanksi berat yang diberikan. Seperti misalnya pengurangan poin, denda, sampai didiskualifikasi dari liga.
"Harus ada sanksi seperti pengurangan poin, denda dana, sampai dikeluarkan dari liga atau turnamen. Sehingga klub pun ada rasa memiliki kepada liga. (Kalau) Tindakan hukum tidak ada, pencoretan tidak ada, berarti tidak ada perubahan," ujar Menpora.
"Kami sendiri sudah SMS dan telepon kepada operator. Pasti kejadian ini di luar kontrol, karena antisipasinya tak memadai. Penonton datang ke stadion itu kan ingin aman dan nyaman. Tapi ini tidak ada jaminan, tapi korban berjatuhan kenapa diteruskan," tuturnya.
(ads/krs)











































