Terakhir, aksi brutal berupa pengeroyokan dan penganiayaan pada asisten wasit (hakim garis) terjadi di pertandingan lndonesian Soccer Champions (ISC) B hari Minggu (7/8/2016), saat PSS SLeman bertanding melawan Persinga Ngawi di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.
Dalam rekaman video, terlihat sejumlah pemain mengejar-ngejar, memukul dan menginjak-nginjak sang ofisial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Baca: Ini Video Pengeroyokan Hakim Garis di Pertandingan PSS vs Persinga]
"Ini bukan kejadian pertama di sepakbola Indonesia. Tapi, sudah berulang-ulang terjadi. Hukuman yang tidak tegas selama ini dan terkesan tebang pilih dijadikan yurisprudensi pelaku sepakbola untuk mengulanginya. Ini tak boleh lagi dibiarkan," lanjut Akmal.
Dalam penilaian SOS, ada banyak sebab yang membuat para pelaku sepakbola melakukan tindakan anarkis di lapangan. Pertama, buruknya kinerja wasit. Kedua, minimnya pengetahuan pemain tentang peraturan di sepak bola. Ketiga, faktor nonteknis saling curiga terkait tingginya potensi match fixing di sepakbola Indonesia yang sudah menjadi rahasia umum, tapi tak pernah dituntaskan.
"Faktor-faktor ini harusnya diurai oleh federasi (PSSI) dan juga operator kompetisi. Utamanya, soal pengaturan skor, match acting, match setting, dan match fixing. Kepercayaan terhadap tata kelola kompetisi sepakbola nasional harus dikembalikan. Jangan ada lagi dusta di antara kita," Akmal menegaskan.
"Butuh pengawasan dan pengendalian melekat agar kedepannya semua berjalan sesuai aturan. Perang terhadap mafia bola, bandar judi yang merusak mental dan trust harus digelorakan. Ini kalau kita menginginkan sepakbola kita berprestasi ke depannya dan jauh dari aksi brutal."
Menurut catatan # SOS, sejak tahun 2003 sedikitnya terjadi 30 kasus kekerasan/penganiayaan terhadap ofisial pertandingan, termasuk yang pada gelaran ISC 2016, baik di level A maupun B.
Pertama, saat para pemain Semen Padang mengintimidasi wasit Hadiyana, saat tandang ke markas Perserui, Serui, 11 Juni 2016. Kedua, dilakukan Presiden Klub Persisam Borneo FC, Nabil Husein, yang menendang wasit Bahrul Ulum usai timnya kalah 2-3 dari Mitra Kukar, 10 Juni 2016. Ketiga, di ISC B, ketika pemain PSBK Blitar menganiaya wasit Suyanto saat menjamu Madura Utama di Stadion Soepriadi, Blitar, 6 Mei 2016.
"Semua terjadi karena mulai hilangnya respek terhadap aparat pertandingan dan tingginya isu nonteknis di kompetisi sepak bola nasional. Ini harus dituntaskan agar sepakbola kita lebih bermartabat, bukan malah menjadi barbar," demikian Akmal.
(a2s/roz)











































