Pemilihan kota Makassar sebagai venue Kongres PSSI pada 17 Oktober mendatang berawal saat KLB di Ancol beberapa waktu lalu. Ketika itu salah satu voter menyuarakan bahwa Makassar siap menjadi tuan rumah Kongres PSSI.
Bahkan mereka menegaskan siap menanggung biaya perhelatan Kongres PSSI tersebut. Lalu, beberapa hari kemudian, PSSI mengumumkan bahwa kongres dipastikan digelar di Makassar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertanyaannya mungkin kepada PSSI adalah apa voter boleh membiayai kongres? Seharusnya menurut statuta FIFA, federasi yang membiayai itu," kata anggota K-85 GH Sutejo di Swiss Bell Hotel, Jakarta, Kamis (15/9).
Namun begitu, Sutejo menegaskan bahwa sejatinya dia tidak mempermasalahkan tempat apakah digelar di Makassar atau kota lain. Tapi cara PSSI yang sudah memutuskan sepihak.
Maka dengan adanya rekomendasi dari pemerintah untuk menggelar Kongres PSSI di Yogyakarta, K-85 disebutnya mendukung. Sutejo menilai langkah pemerintah tersebut bukanlah intervensi, tapi memberikan ruang kepada pemerintah untuk ikutserta.
"Tidak ada salahnya kita anggap dari titik nol, karena kita harus melakukan reformasi total di mana 68 tahun yang lalu, PSSI berdiri di sana oleh Suratin. Jadi tidak ada salahnya kita mengingat sejarah itu,"
"Kami tidak ingin peluang yang baik dari pemerintah disia-siakan. Pemerintah telah memberikan pertimbangan dan kita sebagai stakeholder harus mengimbangi agar tidak ada tarik menarik,"
"Kita menyatakan mau di Papua atau Makassar dimana pun NKRI pasti kami dukung. Kita bukan tidak mendukung Makassar, karena di sana ada PSM Makassar dan voter. Kita hanya ingin menyamakan persepsi saja."
"Pemerintah sudah memberikan rekomendasi inidalam posisi kepala dingin sehingga kongres berjalan baik, kita sebagai anggota PSSI yang kita inginkan tidak adanya tarik menarikan kepentingan kita ingin duduk bersama," katanya. (ads/din)











































