"Status prosesnya ada yang dalam status KITAS sudah keluar, ada yang rekomendasi BOPI sudah keluar, tapi deadline dari kami adalah 6 Oktober. Mungkin awal Oktober akan kami rilis," ujar direktur utama PT Gelora Trisula Semesta (GTS), Joko Driyono, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (27/9).
"Prinsipnya tak ada satu pun klub yang ingin abaikan itu semua. Kami berterima kasih pada Depnaker dan Menpora karena sudah membantu. Meski tempat tinggal disponsori langsung oleh klub, tapi kami GTS akan terus dampingi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disebutkan bahwa sampai putaran pertama TSC berlangsung, tercatat 81 pemain dan pelatih asing yang menggunakan visa on arrival, 16 pemain/pelatih memakai kunjungan usaha, dan satu pemain tidak diketahui jenis visanya. [Baca: Temuan #SOS: Mayoritas Pemain Asing ISC Tanpa Izin Kerja Resmi]
Hal ini sungguh luar biasa mengingat KITAS adalah sebuah peraturan negara, yang pelanggaran terhadapnya diancam dengan hukuman, baik kepada yang bersangkutan maupun pihak yang mempekerjakan.
PT GTS selaku penanggung jawab (dan operator) TSC pun dianggap lalai dalam urusan ini, karena mereka baru bertindak setelah fakta tersebut ditemukan oleh pihak lain yang tidak terkait penyelenggaraan turnamen/kompetisi.
Selain KITAS, ada temuan lain dari SOS bahwa pelatih tim nasional Indonesia, Alfred Riedl, ternyata tidak langsung diurus izin kerjanya oleh federasi (PSSI), yang notabene adalah pihak yang mempekerjakan.
![]() |
Temuan tersebut berdasarkan bocoran surat yang dikirimkan PSSI kepada Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Pada surat tertanggal 6 September 2016, yang ditandatangani Sekjen Azwan Karim, disebutkan bahwa PSSI meminta bantuan BOPI berupa rekomendasi untuk mengurus IMTA (Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing) kepada tiga orang: Riedl, Wolfgang Pikal (asisten pelatih), dan Hans Pieter Schaller (asisten pelatih).
Riedl ditunjuk PSSI untuk menukangi timnas Indonesia (untuk kali ketiga) pada bulan Juli 2016 β dan IMTA baru akan diurus tiga bulan kemudian, di saat timnas sedang mempersiapkan diri menghadapi turnamen Piala AFF pada November mendatang.
Ditanya mengenai perkembangan administrasi untuk Riedl cs., Azwan tidak menjawab. Namun ia berkenan memberi pernyataan terkait adanya data pemain bernama Driss Fettouhi di situs statistik Transfermarkt, yang mencantumkan 'Maroko dan Indonesia' sebagai kewarganegaraannya. Padahal Indonesia tidak mengenak dwi-kenegaraan -- dan Fettouhi tak pernah bermain di Indonesia.
"Kami harus kroscek dulu, tidak bisa sembarangan. Karena sebelumnya sempat ada pemain yang memalsukan paspor Indonesia dan tidak boleh terjadi lagi," ujar Azwan, Selasa (27/9).
Jika pun benar adanya, Azwan juga tidak bisa memutuskan dia bisa menjadi pemain timnas Indonesia. Sebab, hanya pelatih yang akan menilainya layak atau tidak.
"Kalau masalah itu, urusan pelatih. Tapi kami terbuka siapa yang memang pemain terbaik, tapi dalam hal ini harus diselidiki dulu," katanya.
![]() |
Fettouhi saat ini merupakan pemain Al Kharaitiyat di Qatar Stars League. Dia juga pernah tercatat membela sejumlah klub, di antaranya Ajman Club di Uni Emirat Arab (UEA).
Mantan pemain timnas Maroko U-23 itu pernah mampir ke Indonesia saat membela negaranya di ajang Islamic Games 2013 di Sumatera Selatan.
(ads/a2s)













































