Menpora Minta Suporter Jadi Simbol Pemersatu

Menpora Minta Suporter Jadi Simbol Pemersatu

Meylan Fredy Ismawan - Sepakbola
Jumat, 03 Mar 2017 02:18 WIB
Menpora Minta Suporter Jadi Simbol Pemersatu
Foto: Humas Kemenpora
Jakarta - Menpora Imam Nahrawi bertemu dengan perwakilan Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) pada Kamis (2/3/2017). Dalam kesempatan tersebut, Imam meminta suporter menjadi simbol pemersatu bangsa melalui sepakbola.

Pertemuan tersebut dilakukan di ruang kerja Imam, lantai 10 Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta. Imam didampingi oleh Plt. Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Washinton, sementara dari PSTI hadir Ketua Umum Ignatius Indro, Humas Dedie Priyanto (Bojonegoro), Alma Costa, Bendahara Kenrick Philbert (Singkawang), serta Ketua Bidang Organisasi Hazmin A.ST. Muda (Ternate) dan Zico Mulia (Jakarta).

Kepada Menpora, Ignatius memberi penjelasan mengenai organisasi yang dipimpinnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Organisasi kami terbentuk pada 2016 oleh Dewan Pendiri yakni Bapak Soemantri, suporter kami lihat sangat potensial sehingga jadilah kami PSTI, kami ingin sepakbola menjadi tontonan keluarga yang aman karena kita suporter tetapi hal itu belum tercipta," katanya dalam rilis yang diterima detikSport.

"Kami berharap organisasi kami dapat menjadi mitra Kemenpora dan PSSI ke depannya untuk mengkoordinir suporter, lomba membuat yel-yel untuk timas, dan koordinasi dengan fansbase serta suporter di daerah-daerah. Hingga saat ini calon anggota kami sekitar 1.000 orang seluruh Indonesia," lanjut Ignatius.

"Intinya kami adalah suporter yang sangat mencintai timnas. Suporter Indonesia adalah suporter yang sebenarnya memiliki gairah untuk sportif. Kami adalah sekumpulan suporter yang menginginkan wadah untuk suporter pendukung timnas Indonesia," tambah Dedie Priyanto.
Menpora Minta Suporter Jadi Simbol PemersatuFoto: Humas Kemenpora

Menanggapi hal tersebut, Imam menyebut pengelolaan suporter tak bisa berjalan sendiri, tapi juga harus melibatkan klub dan PSSI.

"Ujungnya ke depan suporter harus dikelola modern, misalnya ke depan penjualan tiket nonton harus mulai online, tidak ada lagi penjualan tiket secara offline," kata Imam.

"Masing-masing suporter harus ada saham di klub semisal 10% untuk klub maka konsekuensinya bila ada kerusuhan maka bukan lagi suporter tetapi juga klub, kita harus ciptakan regulasi yang ketat semisal tidak boleh menyuarakan yel- yel yang mengandung SARA dan sebagainya, apabila di hulunya telah kompak maka tinggal di hilirnya yaitu timnas," tambahnya.

"Filosofinya adalah sepakbola harus menjadi pemersatu bangsa. Saya ingin adanya simbolisasi nasional yang dulu dilakukan elite suporter. Boleh kita berbeda klub tetapi bicara timnas saat kita dukung timnas maka kita semua suporter harus memakai seragam timnas," tutur menteri asal Bangkalan, Madura, ini.


(mfi/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads