Regulasi di kompetisi level tertinggi Indonesia tersebut sudah memunculkan perdebatan tersendiri, sehubungan dengan acuan yang ada di Laws of the Game FIFA dan IFAB.
[Baca juga: Bagaimana Aturan FIFA tentang 5 Pergantian Pemain di Kompetisi Resmi?]
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya mau bagaimana lagi? Memang sudah harus begitu. Karena ada pemain muda yang harus dimainkan. Sebelumnya juga pernah dicoba di Piala Presiden, kan? Semoga ini membuat pelatih jadi mudah," kata Timo saat dihubungi detikSport.
Sementara Nilmaizar, pelatih Semen Padang, menegaskan regulasi yang akan dipakai di Liga 1 tersebut tidak sesuai Laws of the Game. Jika aturan tersebut hanya untuk memudahkan pemain U-23 tampil di Liga 1, imbuhnya, akan lebih baik untuk menggalakkan kompetisi di sesuai masing-masing kelompok umurnya saja.
"Pergantian lima pemain itu sudah salah. Aturannya kan ada di Laws of the Game FIFA. Ya, kita harusnya merujuk ke sana," ujar Nilmaizar di ujung sambungan telepon.
[Baca juga: Soal 5 Pergantian Pemain di Liga 1, PSSI Akan Konsultasikan ke FIFA]
"Anda harus tanyakan lagi ke PSSI, kenapa bikin aturan ini. Kalau mau mengakali penggunaan pemain U-23, harusnya dibuat saja liga kelompok umur dari level kabupaten sampai nasional dan harus terorganisir dengan baik, jangan malah menghapus tim di level U-21," sebutnya.
Nil menambahkan bahwa jika dilanjutkan maka justru pelatih-pelatih klub Liga 1 yang akan pusing sendiri, terlebih kalau mereka berhasil membawa timnya menembus kompetisi antarklub Asia.
"Kalau jumlah pergantian pemain jadi lima, pelatih juga pusing sebenarnya. Yang tadinya cuma pikirkan pergantian sampai tiga, sekarang jadi lima. Tidak ada juga aturan itu," ucapnya.
"Belum lagi kalau main di level Asia, akan ada pengaruh yang terasa dari kebiasaan lima pemain jadi tiga pemain," beber Nil.
(krs/nds)











































