Islah suporter telah digelar di Auditorium Kemenpora, Senayan, Kamis (3/8/2017). Dalam jumpa suporter itu mereka mengikrarkan bersama-sama sekaligus membubuhkan kesepakatan dalam satu kalimat perdamaian antarsuporter.
Wakil Presiden Pasoepati, Ginda Ferachtriawan, mengapresiasi semangat yang datang dari pemerintah, PSSI, juga perwakilan Mabes Polri dalam memperbaiki sepakbola Indonesia ke arah yang lebih baik. Namun, dia mengingatkan komitmen ini bisa dijalankan semua pihak, bukan suporter saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi dari awal Kemenpora (juga) bilang ini adalah langkah awal. Kita selalu mengatakan deklarasi, perdamaian, islah, ya itu dari bawah. Tidak bisa dari atas tanda tangan dianggap selesai. Tidak bisa. Masih jauh dan ini sudah kami pahami bersama.
"Kami dari suporter sudah bilang ingin dihargai sebagai stakeholder. Bukan dianggap sebagai suporter, selalu diberi sanksi tapi tidak pernah diberi solusi. Nah, itu yang jadi masalah. Mudah-mudah dalam waktu akan datang katanya ada pertemuan itu setiap tiga bulan, ya nantinya bisa dikumpulkan," ucap dia.
Bukan tanpa alasan Ginda mengatakan demikian. Apalagi Pasoepati telah menerapkan beberapa Standar Operating Procedure (SOP) untuk anggotanya. Tapi terkadang justru panpel lah yang kerap tidak sesuai ketentuan yang ditetapkan.
"Kami dari Pasoepati yang menerapkan beberapa SOP yang sudah pas. Tapi tetap saja bolong-bolong juga. Nah, ini setelah disepakati ada panpel memberikan kami kuota tapi tidak sesuai fakta. Kasih kuota 5 ribu tapi kapasitas hanya 4 ribu. Lalu yang kena sanksi kami lagi," Ginda melanjutkan.
"Kemarin kami lewat Magelang, dikasih hotel, ada yang lewat kopeng, ada yang lewat Yogyakarta, berantem kami kena lagi. Jadi permasalahan di sana. Tidak bisa ini hanya karena suporter."
"Kami ingin pemerintah sudah ambil peran yang aktif. Jangan bilang ini masalah klub, bola, atau PSSI, ini masalah anak-anak muda yang potensinya luar biasa dan komunitasnya sudah terlalu besar dan sudah saatnya dibina."
"Bicara suporter bukan ratusan tapi ribuan sampai 20 ribu sekali pertandingan. Omzet pertandingan bisa dari 200 juta sampai miliaran. Ini potensi luar biasa dan harus bisa diimbangi baik klub, federasi, maupun pemerintah," ujarnya.
(mcy/rin)











































