Egy Maulana Vikri Pernah Ditipu Agen Abal-Abal

Egy Maulana Vikri Pernah Ditipu Agen Abal-Abal

Femi Diah - Sepakbola
Rabu, 27 Sep 2017 15:41 WIB
Egy Maulana Vikri Pernah Ditipu Agen Abal-Abal
Egy Maulana Fikri saat bertemu dengan guru-guru di SMA Ragunan, Jakarta Selatan. (Hasan Alhabshy/detikSport)
Jakarta - Egy Maulana Vikri mempunyai pengalaman pahit di sepakbola. Sepatu latihan bahkan sempat dibuang karena tak mau lagi berlatih.

Egy mengenal sepakbola dari ayahnya, Syaripudin. Dia merupakan mantan pemain salah satu klub Lokal di Medan, Asam Kumbang. Sharipudin-lah yang menjadi guru pertama Egy dalam menggocek bola, melakukan passing serta finishing.

Dalam prosesnya, dia dimasukkan dalam Sekolah Sepakbola (SSB). Egy memilih SSB Taman Setiabudi Indah (Tasbih) saat kelas 1 SD.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring berjalannya waktu, Egy makin menunjukkan bakatnya. Bersama ASSBI, Egy menjuarai Grassroots Indonesia U-12 Tournament 2012. Dengan 10 gol, Egy menjadi topskorer.

Sukses lain diraih Egy, pada level junior, saat menjadi jaura Piala Suratin. Tak main-main, dia menjadi pencetak gol terbanyak sekaligus meraih penghargaan pemain terbaik.

Tapi, potensi Egy justru dimanfaatkan oleh beberapa orang tak dikenal. Mereka datang dengan iming-iming mengajak Egy berlatih di tempat yang lebih oke dan meminta bayaran.

"Dulu saya sempat berhenti latihan main bola karena dulu banyak janji-janji ke sana ke sini (untuk mengajak seleksi ke Jakarta) cuma nggak benar," kata Egy dalam d'Happening di markas detikcom.

Putus asa tak mendapatkan jalan bisa mendapatkan pelatihan sepakbola yang lebih oke, Egy mogok berlatih. Orang tuanya pun kemudian membuang sepatu kesayangannya.

"Sepatu semua dibuang. Saya mogok latihan," tutur dia.

Sebuah jalan untuk menunjukkan kemampuannya di lingkup yang lebih luas dari Medan terbuka saat Bagja Suhian mendatangi kediamannya. Bagja bilang akan mempromosikan Egy kepada pelatih Indra Sjafri dengan cara mengajak Egy mengikuti seleksi di Jakarta.

Egy tak langsung percaya. Dia khawatir ditipu lagi.

"Saya sebenarnya pertama kali ketemu coach Indra di grassroots. Kemudian Pak Bagja yang merekomendasikan saya ke coach Indra. Saat itu coach Indra hanya melihat saya bermain di salah satu turnamen agak jauh dari Medan. Tapi saya waktu itu hanya foto bersama,"

"Akhirnya Pak Bagja yang membawa saya langsung ke Jakarta tidak seleksi di Medan lagi. Waktu itu saya ikut seleksi di lapangan Senayan, ada sekitar 30 pemain," katanya.

Kini, Egy menatap Kualifikasi Piala Asia U-19. Dia juga terdaftar sebagai siswa kelas tiga SMA Ragunan, Jakarta. Egy berada di Ragunan sejak kelas 1 SMP. Dia mendapatkan beasiswa dari sepakbola. Jangan sampai patah hati dan membuang sepatu lagi ya, Egy.

[Gambas:Youtube]



(fem/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads