DetikSepakbola
Rabu 27 September 2017, 17:22 WIB

Sepakbola Indonesia di Mata Kim Kurniawan

Mohammad Resha Pratama - detikSport
Sepakbola Indonesia di Mata Kim Kurniawan Duel Persib Bandung kontra Bhayangkara FC akhir pekan lalu (Wisma Putra/detikSport)
Bandung - Sudah enam tahun Kim Kurniawan berkarier di sepakbola Indonesia. Senang, sedih, dan carut-marut persepakbolaan lokal pernah dirasakannya. Seperti apa?

Kim memulai kariernya di Indonesia pada tahun 2011 ketika diminta datang oleh Timo Scheunemann ke Malang. Kala itu Timo tengah melatih Persema Malang yang bermain di Indonesia Premier League atau IPL.

Timo tahu bagaimana kualitas Kim karena mereka sama-sama berasal dari Jerman. Apalagi Timo sudah lama berada di Indonesia dan bahkan menikah dengan orang Malang, sehingga dia tahu persis Kim cocok dengan sepakbola Indonesia.

Sepakbola Indonesia di Mata Kim KurniawanKim Kurniawan sedang bergaya menggunakan HP Oppo (Muhammad Ridho/Detiksport)

Meski demikian masa adaptasi Kim tak berjalan mulus karena saat itu persepakbolaan Indonesia tengah dilanda konflik dualisme kepengurusan di PSSI yang lantas berujung intervensi pemerintah di tahun 2015. IPL terbengkalai dan Persema pun jadi salah satu klub yang dihukum PSSI.

Alhasil, FIFA pun menjatuhkan skorsing kepada Indonesia dan membuat situasi persepakbolaan lokal jadi kacau balau. Kim pada tahun 2014 sedang merumput bersama Pelita Bandung Raya.

[Ikutan Instagram Competition, dan Dapatkan OPPO F3 Selfie Expert]

Dua tahun bermain di sana, Kim lantas pindah ke Persib Bandung pada 2016 dan sampai saat ini masih bermain di sana. Sudah sekitar enam tahun Kim bermain di Indonesia dan tentu banyak hal menyenangkan sekaligus tidak mengenakkan yang pernah dialaminya.

Terkait hal tersebut, Kim sendiri punya pandangan tersendiri soal persepakbolaan Indonesia saat ini.

"Kalo prospek sepakbola di sini sebenernya tinggi, apalagi melihat Indonesia negara yang besar. Kalo kita lihat Thailand aja yang udah bisa ikut kualifikasi Piala Dunia 2018, mungkin mereka gagal lolos tapi mereka bisa main lawan Australia, main lawan Iran, tidak masalah," ujarKim dalam wawancara dengan detikSport di Bandung beberapa waktu lalu.

"Tujuannya ya harus ke situ. Saya pikir tujuan kita untuk jangka panjang harus kita ingin 'Kapan-kapan Indonesia harus ikut Piala Dunia'. Cuma step pertama menurut saya itu kita harus sadar kalau sepakbola Indonesia tidak sempurna. Dan buat pemain susah, kita cuma bisa bermain, kita tidak bisa merubah apa pun," lanjutnya.

"Jadi, awal-awal pengurus harus sadar bahwa sepakbola kita belum sempurna. Masih banyak yang bisa kita perbaiki, mulai dari junior (di Indonesia tidak ada klub junior). Tidak ada, Persib tidak punya. Di Jerman, setiap klub amatir bahkan punya tim U-6,U-8, U-9, semuanya sampe senior," paparnya.

"Mereka sama dengan senior, setiap minggu ada pertandingan. Jadi mereka di situ sudah dilatih. Jadi tidak kaget, mereka dari junior ke senior. Kalo disini rada susah grade-nya rada tinggi."

"Persib pun ya juga gitu, Cuma si Febry (Hariyadi) kan emang luar biasa, Billy (Keraf), (Gian) Zola, yang lain-lain juga bakatnya juga ada. Cuma adaptasinya masih belum mulus. Nah di Indonesia juga banyak infrastruktur, masih bisa diperbaiki," demikian dia.

Lebih lanjut, Kim menilai harus ada pihak yang bertanggung jawab atas segala sengkarut di persepakbolaan nasional. Siapa mereka? Tunggu cerita selanjutnya di detikSport.



(mrp/din)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed