DetikSepakbola
Jumat 13 Oktober 2017, 19:47 WIB

Jangan Terulang Lagi Kericuhan Suporter dengan Aparat!

Amalia Dwi Septi - detikSport
Jangan Terulang Lagi Kericuhan Suporter dengan Aparat! Foto: Karangan bunga untuk Banu Rusman
Jakarta - Meninggalnya suporter akibat bentrokan dengan aparat saat pertandingan sepakbola bukan pertama kali terjadi. Kenapa kembali terulang?

Insiden paling anyar menimpa Banu Rusman, 17 tahun. Dia meninggal dunia diduga akibat bentrok dengan penonton lain yang berseragam TNI di laga antara PSMS Medan dengan Persita Tangerang di babak 16 besar Liga 2 di Stadion Mini Persikabo, Bogor, Rabu (11/10/2017).

Sempat dilarikan ke rumah sakit, Banu meninggal dunia. Jenazahnya dikebumikan di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (13/10).

Kericuhan antarsuporter itu terjadi setelah pertandingan selesai. Bermula saat suporter Persita turun ke lapangan karena kecewa timnya menelan kekalahan 0-1.

Kemudian, mereka mendatangi pendukung PSMS yang mayoritas merupakan anggota militer. Aksi lempar batu dan botol pun terjadi. Tak terima dengan ulah oknum suporter Persita, pendukung PSMS yang berambut cepak itu balik turun ke lapangan mengejar suporter Persita.

Berdasarkan data dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Save Our Soccer #SOS, Banu merupakan korban ke-65 di sepak bola Indonesia sejak Liga Indonesia digulirkan pada 1994/1995.

[Gambas:Youtube]

"Sangat riskan bila lembaga negara apalagi aparat penegak hukum (TNI dan Polisi) ikut terlibat di kompetisi. Potensi terjadi gesekan di level grass-root sangat besar apalagi sepak bola melibatkan massa (penonton, suporter, fans)," kata koordinator SOS, Akmal Marhali, dalam rilis kepada detikSport.

"Aparat keamanan lebih baik dikembalikan ke fungsi utamanya. Termasuk menjaga keamanan dan kenyamanan dalam pertandingan sepakbola," imbuh dia.

Berikut bentrok antarsuporter sipil dengan aparat militer sebelum Banu:

Persegres Gresik United vs PS TNI

Bentrok antarsuporter dengan anggota TNI terjadi di laga Persegres Gresik United melawan PS TNI pada bulan Mei 2016 di Stadion Petrokimia saat turnamen TSC. Bentrokan tersebut terjadi karena kesalahpahaman antara pendukung Persegres dan suporter PS TNI. Akibatnya, kedua suporter saling ejek, dan terlibat kekerasan fisik sampai kejar-kejaran di lapangan.

Kericuhan tersebut mengakibatkan 50-an korban, Ultras Gresik, mengalami luka-luka. Mereka adalah suporter Ultras Gresik. Setelah bentrokan tersebut terjadi, kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk berdamai.

Komdis PSSI menjatuhkan hukuman kepada kedua tim. PS TNI disanksi denda Rp 50 juta dan dua pertandingan tanpa penonton. Sementara itu, Gresik United disanksi denda Rp 10 juta.

Persija Jakarta vs Sriwijaya FC

Laga Persija dengan Sriwijaya FC di Stadion Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 2016 lalu memang tidak didukung oleh suporter dari aparat. Namun, kericuhan terjadi antara The Jakmania dengan oknum polisi di tribune VIP Timur. Penyebabnya, aparat menahan ratusan suporter yang berusaha masuk lapangan.

The Jakmania diduga masuk ke lapangan karena menghindari gas air mata yang ditembakkan ke arah mereka. Akibatnya, aksi saling kejar-kejaran dan kekerasan terjadi di atas lapangan.

Sepadankah raihan tiga poin dengan melayangnya nyawa?


(ads/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed