sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 27 Feb 2018 13:23 WIB

One on One

Setahun Luis Milla Jalani 'Tantangan Indah' di Timnas Indonesia

Femi Diah - detikSport
Luis Milla sudah setahun membesut Timnas Indonesia (Grandyos Zafna/detikSport)
FOKUS BERITA One on One: Luis Milla
Jakarta - Satu tahun sudah Luis Milla menjadi pelatih Tim nasional Indonesia. Entrenador dari Spanyol itu melabeli periode itu sebagai sebuah 'tantangan yang indah'.

Milla menjadikan 20 Januari sebagai tanggal yang patut diingat. Di tanggal tersebut setahun lalu, Milla diikat sebagai pelatih Timnas Indonesia.

Milla merayakan satu tahun bersama Indonesia itu lewat akun isntagramnya. Dia mengunggah pada 9 Februari.

"Satu tahun setelah saya menerima tantangan indah di Indonesia. Terimakasih atas dukungan setiap harinya. We keep going!"




***

Mila sebenarnya bukan satu-satunya pelatih asing yang diincar PSSI. Otoritas sepakbola nasional itu sebelumnya juga dirumorkan mengincar pelatih asal Spanyol lainnya, Luis Fernandez. Tapi pilihan kemudian jatuh ke Milla. Pria kelahiran Teruel, 51 tahun silam itu melanjutkan tongkat estafet yang sebelumnya dipegang Alfred Riedl.

Indonesia diakui Milla sebagai negara yang asing buatnya. Dia menyebut Indonesia tak terlihat di persaingan sepakbola global. Maka kedatangannya ke Jakarta merupakan sebuah petualangan ke dunia yang benar-benar baru untuk mantan pemain Barcelona, Real Madrid, dan Valencia itu. Mila menyadari beratnya tantangan yang akan dia hadapi.

"Ini adalah petualangan, mengapa menyangkalnya? Saat menerima tantangan ini, saya tahu sedang ada di mana," kata Milla kepada Marca waktu itu.

"Ini akan menjadi pengalaman hidup yang positif, juga mengenal budaya dan mentalitas lain. Indonesia adalah negara yang tidak banyak terdengar di sepak bola dunia. Tapi, setelah tiga hari ada di sana, saya merasa ada gairah yang nyata," lanjut Milla waktu itu.

Penunjukkan Mila adalah sebuah langkah besar yang dilakukan PSSI untuk membangkitkan sepakbola nasional. Saat Milla resmi dikontrak, Indonesia belum genap setahun terlepas dari sanksi FIFA. Milla sendiri punya trek rekor mentereng, dia membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa U-21 pada 2011 lalu.

Untuk memoles Timnas Indonesia, Milla didampingi dua orang asisten. Yang pertama adalah Miguel Gandia, dia pelatih fisik yang sudah bekerja bersama dengan Milla sejak di Lugo dan Real Zaragoza. Satu lagi bernama Eduardo Perez, yang pernah bersama Milla menangani klub Uni Emirat Arab (UEA), Al Jazira. Eduardo Perez adalah pelatih kiper, analis, dan menjadi asisten Milla dalam hal berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Terkait bahasa, seperti banyak pelatih asing, Milla juga dihadang masalah yang sama. Pada kasusnya, kondisi yang terjadi malah lebih buruk lantaran dia tak fasih berbahasa Inggris. Di pinggir lapangan atau saat sesi latihan dia memberi instruksi ke pemain dengan bahasa Spanyol.

Hal tersebut coba diatasi dengan dengan merekrut Bima Sakti menjadi asisten. Bima ketika itu masih terdaftar sebagai pemain Persiba Balikpapan. PSSI lantas menyertakan Bayu Eka Sari sebagai staff pribadi sekaligus penerjemah untuk Milla.

Melalui Bima dan Bayu, penggawa Timnas sedikit-sedikit diperkenalkan dengan bahasa Spanyol. Mereka mengawali dengan kata-kata yang dipakai di keseharian dan terutama hal-hal yang terkait teknis di atas lapangan. Sebuah kamus sederhana pun dibuat demi menjembatani halangan bahasa.

Di banyak kesempatan, Bima Sakti pun sekaligus mengambil peran sebagai perantara. Dia terlihat lebih aktif di tepi lapangan. "Seperti diketahui dia asisten saya. Teman-teman tahu semua saya tidak bisa bahasa Indonesia dan saya diwakilkan oleh Bima Sakti," ujar Milla.

Kendala bahasa itu belum tuntas benar meski Milla sudah setahun menjadi pelatih Timnas. Detail ide dan instruksinya tak benar-benar sampai kepada pemain.

"Saya nggak begitu ngerti (arahan Milla) karena dari Spanyol kan, ada kendala dari bahasa, porsi latihan cukup. Alhamdulillah bagus juga," tutur Hanis Saghara Putra, penggawa Timnas U-19 baru-baru ini.

Dari sisi pengembangan teknik dan strategi, Milla mendapat masalah lain. Pria yang pernah menjadi pelatih timnas Spanyol U-19, U-20, U-21, dan U-23 tersebut, menemukan para pemain Indonesia ternyata masih belum fasih dengan kemampuan dasar bermain bola. Alhasil, Milla harus menyiapkan waktu untuk khusus memoles kemampuan dasar itu.

"Mungkin anak-anak muda di tim saya tidak mendapatkan latihan tersebut (dari menyerang menjadi bertahan dan sebaliknya) sebelumnya, jadi butuh waktu untuk penyesuaian. Tapi, saya yakin bisa memperbaikinya," ujar Milla.

Statistik Milla sejauh ini tak bisa dibilang memuaskan karena beberapa kegagalan yang didapat Skuat Garuda dan Garuda Muda. Tapi karena harus memoles pemain dari dasar, pekerjaan rumah yang dia punya memang banyak. Padahal di saat bersamaan dia sudah ditunggu ujian-ujian berat karena tahun ini ada beberapa turnamen penting yang akan dihadapi.

Salah satu yang paling dinantikan adalah kiprah Timnas Indonesia di Asian Games 2018. Menjadi tuan rumah, timnas diharapkan bisa memberikan penampilan terbaiknya.

Selamat melanjutkan petulangan dan tantangan bersama Timnas Indonesia, Milla!



======

Kami akan menayangkan wawancara khusus bersama Luis Milla sepanjang pekan ini. Ikuti terus pemberitaannya hanya di detikSport.

(fem/din)
FOKUS BERITA One on One: Luis Milla
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com