sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 14 Des 2018 17:21 WIB

5 Sejarah Kalteng Putra FC

Niken Widya Yunita - detikSport
4 Sejarah Kalteng Putra FC  (Foto: Grandyos Zafna/detikSport) 4 Sejarah Kalteng Putra FC (Foto: Grandyos Zafna/detikSport)
Jakarta - Kalteng Putra FC dulu bernama Persepar Palangkaraya. Kalteng Putra akan memulai peruntungannya di Liga 1 2019.

Kalteng Putra FC berhasil naik kasta ke Liga 1 2019. Mereka promosi sebagai peringkat ketiga Liga 2 2018 setelah mengalahkan Persita Tangerang di Stadion Pakaansari, Cibinong pada 4 Desember.

Kalteng Putara FC berjuluk Laskar Isen Mulang atau bisa disebut Enggang Borneo, yaitu burung asli pulau Kalimantan. Laskar Isen Mulang berarti pasukan pantang mundur.

Kalteng Putra FC juga memiliki warna khusus yang sering dipakai para pendukung fanatiknya, 'Kalteng Mania' yakni warna 'Bahandang' yang diambil dari Bahasa Dayak. Artinya, merah yang bermakna pemberani.



Berikut Sejarah Kalteng Putra FC:

1. Awal Berdiri

Kalteng Putra FC atau dulu bernama Persepar Palangkaraya berdiri pada 1 Januari 1970 dalam bentuk perserikatan. Saat itu, perserikatan terdiri dari 48 klub dan Persepar Palangkaraya dulu sekarang Kalteng Putra sebagai induk organisasi sepakbola di Palangkaraya.

JJ Koetin adalah tokoh sepakbola sekaligus Ketua Umum Kalteng Putra pertama sejak berdirinya Kalteng Putra. 23 tahun Koetin menjadi Ketua Persepar (perserikatan) sekarang Kalteng Putra sejak 1970-1993.

2. Stadion

Stadion Kalteng Putra FC adalah Stadion Tuah Pahoe. Stadion ini berada di Jalan Tjilik Riwut KM 5 Palangkaraya. Nama Tuah Pahoe diambil dari nama Wali Kota Palangkaraya yang semasa hidup berkontribusi beasr dalam memajukan sepakbola di Kalimantan Tengah, khususnya Palangkaraya. Yakni, munculnya Kalteng Putra dengan nama awal Persepar Palangkaraya. Untuk menggenang jasa-jasa dia diambillah nama Tuah Pahoe untuk nama kandang Kalteng Putra.

Pada saat itu sempat ada dua pilihan untuk nama stadionnya, yaitu antara Tuah Pahoe atau Cilik Riwut. Tapi, Cilik Riwut sudah digunakan sebagai nama jalan utama penghubung kota dan beberapa kabupaten lainnya di Kalimantan Tengah. Karena itu diputuskanlah menggunakan Tuah Pahoe sebagai nama stadionnya.

Stadion Tuah Pahoe hanya menampung 10.000 penonton. Stadion itu dinilai tak memenuhi syarat untuk menggulirkan pertandingan di kompetisi sepakbola tertinggi setelah Kalteng Putra menjadi runner-up babak play-off IPL. Waktu itu, Kalteng Putra dikalahkan Pro Duta FC di final 3-2.

3. Prestasi

Musim 2011-2012 Persepar berhasil menjadi juara Divisi Utama dengan dilatih oleh coach Agus Sutyono. Di musim 2013 ini Persepar sudah berada di puncak tertinggi sepak bola Indonesia dan berlaga di IPL.



4. Suporter

Kalteng Putra FC memiliki dua suporter besar. Yakni, Kalteng Mania dan PASUS 1970. Kalteng Mania juga memiliki warna khas merah yang bermakna pemberani menyuarakan dukungan positif kepada tim.

Sementara, PASUS 1970 memiliki warna khusus hitam-hitam dan selalu menggunakan sepatu sebagai rasa hormat kepada pemain yang sedang bermain di lapangan. PASUS 1970 mempunyai slogan 'no leader just together' yang berarti tidak ada ketua melainkan kebersamaan.

5. Tiket ke Liga 1

Kalteng Putra mendapatkan tempat di Liga 1 2019 usai memngalahkan Persita Tangerang pada 4 Desember di Stadion Pakansari, Cibinong. Dalam perebutan tempat ketiga itu, Kalteng Putra menang 2-0.

(nwy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed