sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 21 Des 2018 11:52 WIB

Mengungkap Sumber Pembiayaan Bhayangkara FC di Liga 1

Mercy Raya - detikSport
Bhayangkara hidup dari sponsor. (Rifkianto Nugroho/detikSport) Bhayangkara hidup dari sponsor. (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Jakarta - Bhayangkara FC membangun tim dengan badan hukum koperasi dan didanai dari sponsor dalam dua musim mengarungi Liga 1. Seperti apa?

Untuk ukuran klub 'baru', Bhayangkara bahkan belum memenuhi lisensi klub profesional AFC 2018 karena terganjal legalitas yang baru berumur setahun, laju tim besutan Simon McMenemy itu boleh dibilang cukup apik. Bhayangkara finis di papan atas dalam dua musim terakhir. Tampil sebagai juara pada Liga 1 2017, The Guardian kemudian finis di posisi ketiga musim ini.

Dari sisi keuangan, Bhayangkara juga cukup mapan. Dari masa sumbernya?

Manajer Bhayangkara FC, Sumardji, mengungkapkan pendanaan klub itu berasal dari kerjasama dengan beberapa sponsor. di antaranya, bank hingga dan produsen makanan.


Sebagai gambaran, sepanjang musim 2017, Bhayangkara mendapatkan sokongan dana Rp 18 miliar; Rp 10 miliar dari Bank BNI sisanya sponsor lain. Sementara, musim 2018, Bhayangkara mengantongi dana dari sponsor sebesar Rp 22 miliar.

"Kalau kami memang pengelolaannya bukan bertujuan untuk mencari keuntungan. Berbeda ya. Niat kami di Bhayangkara untuk menciptakan orang-orang berprestasi di usianya," kata Sumardji kepada detikSport di Hotel Borobudur, Jakarta.

"Kami tak pernah berpikir mendapatkan keuntungan dari sana. Kami dengan modal yang ada dipress betul, disesuaikan dengan proyeksi satu musim. Jadi, seperti sekarang ini 2018, kami punya anggaran dari empat sampai lima sponsor itu Rp 22 miliar. Itu kami cukup-cukup kan," ujarnya kemudian.

"Kami menggunakan koperasi sebagai badan hukum, koperasi kan usaha. Jadi, bukan koperasi mengeluarkan duit, koperasi ya harus dapat duit. Jadi, Bhayangkara itu bagian daripada unit usaha korlantas. Jadi, pendanaan secara keseluruhan dari sponsor . Di antaranya, BNI, Bright Gas, Jasa Rahaja, Nindia Primarasa, Oxigen, dan yang dari PT Liga. Jadi, tidak ada sama sekali koperasi. Koperasi hanya pembelian sahamnya saja," ujar dia.

Menyesuaikan anggaran itu, lanjut Sumardji, diterapkan dengan tak membeli pemain dengan nominal jor-joran. Bhayangkara juga lebih senang mengikat pemain muda.

"Mayoritas pemain kami polisi statusnya jadi lebih mudah. Seandainya tak mampu kami open, kami sampaikan, itu lah yang membuat kami kuat," tuturnya.

"Jadi mungkin kalau klub kami semua mengontrol, menahan diri, tidak mengambil keuntungan serupiah pun. Serupiah pun. Bisa ditulis itu. Kami tak ada," dia menegaskan.

"Mulai dari manajemen semua bisa ditanya kami tak hanya berpikir mengambil keuntungan serupiah pun. Karena kami murni dapat duit kalau misal sejahtera berarti yang sejahtera pemainnya bukan klubnya. Bukan sejahtera kepada klubnya. Tapi sehat. Tak mau berandai andai ambil pemain besar besar tapi tak kuat bayar," dia menjelaskan.

Bagaimana dengan pendanaan Bhayangkara menghadapi Liga 1 2019? Sumardji akan merancang dalam waktu dekat.

"Pekan ini kami akan pastikan, kami harus rapatkan juga dengan CEO, berapa kira kira pembinaan. Tergantung dengan target, misal tahun depan target 3 besar seperti tahun ini berarti pencapaian anggaran harus lebih. Kalau dari seluruh anggaran taruh lah kurang (misalnya) ya kami harus cari sponsor lagi. Seperti itu," tuturnya.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed