sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Sabtu, 23 Feb 2019 11:57 WIB

'Jangan Buru-buru Kaitkan Match Fixing dengan Hasil Liga'

Amalia Dwi Septi - detikSport
Pertandingan Persija Jakarta dengan Mitra Kukar di Liga 1 2018 dicurigai suap. (Rifkianto Nugroho/detikSport) Pertandingan Persija Jakarta dengan Mitra Kukar di Liga 1 2018 dicurigai suap. (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Jakarta - Dugaan pengaturan skor telah merusak kepercayaan masyarakat terhadap kompetisi Tanah Air. Publik diminta tak terburu-buru mengaitkannya dengan hasil Liga.

Satgas Anti Mafia Bola intens menelusuri praktik pengaturan skor di liga Indonesia. Sejak dua bulan dibentuk, Satgas menetapkan 15 tersangka, dengan satu yang merupakan pengurus klub, Vigit Waluyo. Dia penanggung jawab klub Liga 2 PS Mojokerto Putra.

Belakangan, muncul kecurigaan jika praktik pengaturan skor juga terjadi di Liga 1. Salah satu laga yang terindikasi suap adalah Persija Jakarta melawan Mitra Kukar. Ketika itu Persija menang 2-1 dan menjadi juara Liga 1 2018.

Pemerhati sepakbola, M. Kusnaeni, meminta agar kepolisian segera membuktikan dugaan itu. Dia juga berharap agar praktik suap tak buru-buru dikaitkan dengan hasil liga.


"Pertama-tama, jangan dulu mengaitkan isu pengaturan skor dengan hasil kompetisi. Karena ini kan baru sebatas dugaan dan belum terbukti melalui pengadilan. Lebih baik tunggu dulu semua diproses di pengadilan sampai tuntas. Lalu, kami lihat hasilnya seperti apa," ujar Bung Kus kepada detikSport, Sabtu (23/2/2019).

"Kalau terburu-buru mencabut gelar juara atau mengubah hasil akhir kompetisi, itu bisa bahaya. Bagaimana kalau proses di pengadilan justru menunjukkan tidak ada bukti-bukti kuat adanya pengaturan skor," kata dia.

Jika terbukti suap, PSSI bisa segera mengambil tindakan yang sesuai dengan aturan atau mengaca kepada liga lain.

"Kalau terbukti di pengadilan, baru kami bicara soal konsekuensi. Lihat saja di Statuta PSSI dan Regulasi Liga 1 atau Liga 2 bagaimana aturannya. Cara lain, lihat bagaimana preseden kasus serupa di negara lain. Kami bisa belajar dari Italia, misalnya," ujar Kusnaeni.

"Tapi, sekali lagi, jangan tergesa-gesa mengaitkan dugaan adanya match fixing dengan hasil akhir kompetisi. Ini membawa dampak psikologis yang kurang baik bagi persepakbolaan Indonesia secara keseluruhan," dia menegaskan.

(ads/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed