Agum: Pihak Persebaya Emosional

Agum: Pihak Persebaya Emosional

- Sepakbola
Jumat, 23 Sep 2005 21:29 WIB
Agum: Pihak Persebaya Emosional
Jakarta - Pengembalian Piala Presiden oleh Persebaya Surabaya melalui Seksi Wartawan Olahragara (SIWO) PWI Jaya dianggap Agum Gumelar sebagai tindakan yang emosional. Selain itu, Agum kembali menyatakan kekecewaannya atas pengunduran Persebaya di partai akhir babak 8 besar Liga Djarum 2005.Kepada detiksport, Agum mengungkapkan kembali keterkejutannnya atas mundurnya Persebaya di babak krusial kompetisi Divisi Utama. Langkah tim Bajul Ijo itu dinilai Agum telah berdampak pada persepakbolaan nasional.Tak hanya berpengaruh pada hasil akhir babak 8 besar Grup Jakarta, namun juga membuka mata kalau sepakbola Indonesia itu sangat perlu dibenahi. "Pengunduran Persebaya itu sangat berdampak. Saya sendiri menyesalkan mengapa mereka harus mundur. Tapi hal itu membuka mata bagi kita semua bahwa sepakbola nasional perlu dibenahi," kata Ketua Kehormatan PSSI ini di Jakarta, Jumat (23/9/2005).Saat ditanya mengenai apakah pembenahan itu harus lewat Munaslub, Agum malah memberi jawaban menggantung. Namun yang pasti, ia sangat ingin Raparnas PSSI untuk segera dilaksanakan."Saya tidak mengatakan demikian (Munaslub). Tapi kalau mungkin sudah banyak orang yang berteriak untuk itu, ya silakah berbuat begitu.""Yang saya inginkan adalah secepatnya digelar raparnas. Sudah saya bahas dengan pengurus, waktu itu disepakati bahwa raparnas dilakukan setelah babak 8 besar. Makanya kok ini belum juga, padahal hari Minggu sudah partai final," tutur Agum.Jika memang raparnas berubah menjadi Munaslub, Agum sendiri mengaku tidak punya wewenang kalau memang seluruh anggota menginginkan hal tersebut."Itu semua terserah anggota, semuanya tergantung pada keinginan semua anggota. Saya hanya tak ingin ada intervensi pihak luar," tukasnya.Penyerahan Piala ke SIWO Tindakan EmosionalMenanggapi penyerahan Piala Presiden kepada SIWO oleh Persebaya sebagai juara bertahan, Agum menganggap aksi itu merupakan sebuah tindakan yang emosional. "Dalam keadaan emosi, kadang-kadang orang tidak bisa mengontrol sikapnya. Seharusnya mereka tidak melakukan hal itu," ujarnya.Sementara untuk masalah skorsing Persebaya yang dilarang tanding selama dua tahun, Agum mengungkapkan kalau ia tak bisa menilai apakah hukuman itu pantas atau tidak. Pasalnya, konteks aturan untuk itu sama sekali belum ia pelajari."Kalau soal itu konteks aturannya harus saya pelajari dan saya mendalami faktor-faktor penyebab alasan mereka mundur. Jadi saya tak bisa menilai apakah pantas atau tidak. Tetapi saya prihatin mereka mendapat skorsing," kata Agum.Hanya saja, Agum heran mengapa keputusan Komisi Disiplin PSSI itu diambil tanpa meminta keterangan dari pihak Persebaya lebih dahulu. "Mengapa keputusan keluar dan baru ada pemanggilan, itu yang membuat saya bertanya," tutup Agum mengakhiri pembicaraan mengenai kasus Persebaya tersebut. (lom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads