sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Senin, 21 Okt 2019 13:34 WIB

Ketum Baru Harus Buat PSSI Buka Diri, Jangan Sok Eksklusif

Mercy Raya - detikSport
Benny Erwin, calon ketua umum PSSI (Agung Pambudhy/detikSport) Benny Erwin, calon ketua umum PSSI (Agung Pambudhy/detikSport)
Jakarta - Berkaca pada kepengurusan yang sudah-sudah, Benny Erwin berharap PSSI bisa lebih membuka diri terhadap pemerintah dan stake holder olahraga lain. Kenapa?

PSSi sedang mencari ketua umum baru. Sebanyak 11 calon lolos seleksi dan akan bertarung di Kongres PSSI pada 2 November 2019. Salah satunya, Benny.

Benny, yang kini menjadi anggota Komite Eksekutif (exco) PSSI DKI Jakarta dan manajer tim Pra PON DKI Jakarta, menyimpan mimpi untuk melihat Timnas berprestasi di level internasional. Dia menyoroti ketiadaan kompetisi antarklub untuk usia dini. Khususnya, setelah pemain cilik lulus dari Sekolah Sepakbola (SSB).


"Sekolah sepakbola kita ribuan dan bagus-bagus, tapi SSB kan sampai 15 tahun. Setelah itu mau kemana? Makanya, ke depan saya inginnya klub-klub sepakbola itu memiliki akademi. Di mana di seluruh dunia mana pun juga liga-liga itu mereka punya akademinya masing-masing, jadi kasihan," kata Benny dalam wawancara dengan detikSport.

"Pemain sepakbola di SSB yang bagus-bagus berusia 15 tahun mau ke mana dia? Paling ikut liga-liga swasta. Setelah itu dia mau kemana? Tapi kalau klub memiliki akademi maka pemain yang bagus-bagus ini bisa masuk ke sana. Makanya, pas usia muda kita bagus tapi setelah senior? Coba. Jadi untuk menjaga itu harusnya klub punya akademi," kata dia.

Nah, agar upaya untuk membangun kompetisi berjenjang itu terwujud, Benny menyarankan agar PSSI membuka diri terhadap pemerintah. Ya, PSSI sempat dianggap arogan untuk urusan organisasi.

"Makanya, saya bilang PSSI ini jangan sombong. Gandeng Kemenpora, Komisi X yang membawahi olahraga, bagaimana pun juga infrastruktur ada karena pemerintah daerah dan pusat. Ketika program jelas mereka bisa bantu akademinya., membiayai atau apa. Tetapi ini untuk usia muda bukan profesionalnya," dia mengungkapkan.

Benny menjelaskan anggaran yang dikeluarkan pun tidak akan besar. Dia memperkirakan satu bulan dengan membina 25 pemain sekitar Rp 200 sampai Rp 250 juta dengan usia 15 tahun ke atas.

"Syukur-syukur klub juga mendapat keuntungan karena kalau bagus bisa dijual. Ini namanya investasi. Untuk itu, klub harus berorientasi pasar. Bagaimana pun klub harus profesional dan berintegritas. Sebab, apapun juga bisnis itu investasi bukan langsung tumbuh," dia menjelaskan.



(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com