sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 17 Des 2019 17:42 WIB

Mengenang Mbah Kabul, Pengasong Legendaris yang Dekat dengan Suporter DIY

Pradito Rida Pertana - detikSport
Slamet Raharjo memegang foto Suyamdi alias Mbah Kabul. (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Sleman - Candaan di tribune stadion di Daerah Istimewa Yogyakarta itu sudah tak ada lagi. Suyamdi, alias Mbah Kabul, penjual camilan di laga-laga sepakbola itu sudah berpulang.

Kabar duka meninggalnya Mbah Kabul tersiar, Sabtu (14/12/2019) pagi. Banyak suporter jelas akan merasa kehilangan. Mbah Kabul terkenal ramah dan suka melempar guyonan saat berjualan di stadion-stadion.

Anak ketiga Suyamdi, Slamet Raharjo (38) membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, mbak Kabul meninggal Sabtu pekan lalu, tepatnya usai berjualan di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.

"Jadi (dalang) Ki Seno tampil di Berbah dan (mbah Kabul) jualan di sana, terus pulang dari acara wayang itu bapak tabrakan sama mobil di simpang 4 Krikilan. Kalau kecelakaannya itu terjadi sekitar jam 3 pagi," katanya saat ditemui di kediamannya, RW.03, RT.32 Dusun Betokan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Selasa (17/12/2019).

Slamet melanjutkan, bahwa saat itu ayahnya mengendarai motor dan sesampainya di simpang 4 tersebut lampu APILL menyala secara normal. Karena hal tersebut, baik mbah Kabul dan mobil tersebut tidak mengetahui satu sama lain dan terjadilah tabrakan tersebut.

"Setelah itu saya dapat kabar dari Polsek Berbah dan langsung ke Rumah Sakit Hardjolukito. Saat itu kondisi (mbah Kabul) mengalami patah kaki, tapi badannya utuh," ucapnya.

"Nah, pas mau dirontgen itu sudah meninggal (dunia), untuk meninggalnya sendiri sekitar jam 5 pagi. Setelah itu (dipastikan meninggal dunia) terus jam 6 pagi dibawa ke rumah (duka di RW.03, RT.32 Dusun Betokan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman)," imbuh Slamet.

Lebih lanjut, kepergian mbah Kabul tentu menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Mengingat meninggalnya pria berusia 69 tahun itu terbilang cukup mendadak.

Mengenang Mbah Kabul, Pengasong Legendaris yang Dekat dengan Suporter DIYFoto: Pradito Rida Pertana/detikcom


"Sebelum kejadian itu tidak ada omongan apa-apa, tapi beberapa hari sebelumnya bapak sering jatuh dari motor. Saat itu saya bilang kalau capek istirahat dan jangan dipaksakan," katanya

"Jadi pas kejadian itu mungkin bapak pas kecapekan juga, apalagi kan kalau wayangan itu selesainya bisa sampai jam 2 atau jam 3 pagi," sambung Slamet.

Terlepas dari hal tersebut, Slamet mengaku telah mengikhlaskan kepergian ayahnya. Kendati demikian, ia terkadang masih teringat kenangan bersama ayahnya, terutama saat diajak berjualan asongan.

Slamet mengatakan, bahwa mbah Kabul telah berprofesi sebagai pengasong sejak lama. Bahkan, ia kerap diajak berjualan oleh ayahnya

"Dari tahun 1997, jadi awalnya dulu di alun-alun terus terbentuk kelompok asongan tahun 1998 dan antara tahun 1999-2009 itu bapak mulai jualan di Stadion Tridadi, saya pernah ikut itu," ucapnya.

Tak hanya berjualan di Stadion Tridadi, mbah Kabul juga kerap berjualan aneka camilan seperti tahu asin, arem-arem kacang dan air minum dalam kemasan di stadion-stadion. Selain di stadion, mbak Kabul juga kerap berjualan saat ada tanggapan wayang dengan dalang Ki Seno Nugroho.

"Terus berlanjut jualan di (stadion) Mandala Krida, Amongrogo dan (stadion) Sultan Agung. Tapi kalau tidak ada pertandingan (sepakbola) itu, mengikuti wayang Ki Seno dan kalau tidak ada keduanya ya hanya di rumah saja," kata Slamet.

Pria berkulit sawo matang ini menuturkan, mbah Kabul adalah orang yang humoris saat menjajakan dagangannya. Menurutnya hal itulah yang membuat ayahnya dekat dengan kalangan suporter di DIY.

"Bapak itu orangnya humoris, ngumumi (bersosial), baik di kampung dan di luar kampung, karena itu dia dekat sama orang-orang. Kemarin pas layat juga banyak supporter (klub sepakbola) yang ke sini," katanya.
Selanjutnya
Halaman
1 2
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com