sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 05 Jun 2020 16:50 WIB

Catatan dari Asosiasi Pelatih buat PSSI Sebelum Gulirkan Liga 1 Lagi

Muhammad Robbani - detikSport
yeyen tumena bhayangkara fc liga 1 2019 Ketua APSSI, Yeyen Tumena, ingin bahas ini dengan PSSI sebelum Shopee Liga 1 2020 lanjut. (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia (APSSI) angkat bicara soal Shopee Liga 1 2020. Mulai dari persiapan, negosiasi gaji, hingga protokol keselamatan.

Ketua APSSI, Yeyen Tumena, mengatakan bahwa klub butuh persiapan setidaknya dua bulan dalam menyambut kompetisi. Untuk itu, klub membutuhkan menggelar pramusim lagi sebelum tampil di ajang sesungguhnya.

"Karena pemain dan pelatih hampir dua bulan setengah tak aktif. Kalau kompetisi dimulai, kami semua klub butuh pramusim lagi," kata Yeyen Tumena dalam keterangan persnya.

"Karena berbeda latihan tim dan individu, sementara pramusim itu minimal enam minggu. Setelah itu ada pramusim turnamen, total persiapan untuk masuk ke kompetisi minimal dua bulan," ujarnya menambahkan.

Anggota Komite Eksekutif APSSI, Rahmad Darmawan dan Bambang Nurdiansyah, juga mengusulkan diberlakukannya aturan klub wajib memainkan pemain U-20. Ini demi mengakomodasi Timnas Indonesia U-20 yang akan tampil di Piala Dunia U-20 2021.

Kebetulan salah satu alasan PSSI menggulirkan lagi kompetisi adalah demi Piala Dunia U-20. Aturan itu dirasa penting untuk diterapkan.

Aturan semacam ini pernah diterapkan di Liga 1 2017 era PSSI kepemimpinan Edy Rahmayadi. Saat itu setiap klub wajib mengontrak lima pemain U-23 dengan tiga di antaranya wajib menjadi starter.

"Kalau orientasinya persiapan Timnas U-20, kami sudah bicarakan juga ke PSSI bahwa Liga 1 wajib mainkan pemain U-20. Jangan seperti yang lalu, pemain usia muda dimainkan 5 menit hanya memenuhi regulasi," tutur Bambang Nurdiansyah.

"Itu salah satu poin yang disampaikan PSSI ke kami dan klub wajib mainkan U-20 di setiap laga. Regulasi akan dibahas di badan kompetisi (PT Liga Indonesia Baru)," ucap Rahmad Darmawan menimpali.

Sementara Yeyen juga meminta perhatian dari PSSI terkait masalah gaji dimana kabarnya klub-klub bakal cuma menggaji maksimal 50 persen. Belum ada kejelasan lagi terkait pemotongan gaji setelah kebijakan maksimal gaji 25 persen yang berlaku pada Bulan Maret hingga Juni.

Ia tak setuju aturan menggaji maksimal 50 persen itu dipukul rata ke semua pelatih. Karena setiap individu punya nilai kontrak yang berbeda-beda.

"Jika bicara pelatih, dari pelatih kepala sampai kitman, ada pelatih fisik, penjaga gawang, tim analis, masseur dokter, sampai paling kecil adalah kitman," kata Yeyen Tumena.

"Kami kasih gambaran, kalau ketika kitman kami yang bergaji cuma 10 juta, kalau dipotong 50 persen, itu di bawah UMR (Upah Minimum Regional)," ucapnya.

"Kalau kontrak di bawah Rp 600 juta atau di atas Rp 300 juta maka gaji dipotong 25 persen. Kemudian yang di bawah Rp 300 juta harus dibayar penuh, itu usulan kami kepada PSSI," katanya lagi.



Simak Video "Hai Lampard, Kai Havertz Jadi ke Chelsea?"
[Gambas:Video 20detik]
(cas/aff)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com