Wartawan Boikot Pertandingan PSMS
Sabtu, 18 Feb 2006 19:27 WIB
Medan - Aksi boikot ini dipicu insiden yang terjadi saat PSMS mengalahkan Persija Jakarta di Stadion Teladan Medan, Sabtu (18/2/2005), yang akhirnya berkesudahan 2-0 untuk kemenangan PSMS. Penyebabnya karena panitia melarang wartawan meliput dan menuding wartawan sebagai menyebab berkurangnya keuntungan PSMS dari tiket.Sebagai bukti keseriusannya, wartawan mengembalikan kartu pas masuk kepada Ketua Harian PSMS Medan Ramli, saat pertandingan baru dimulai. Mereka yang mengembalikan tiket umumnya wartawan olahraga yang selama ini meliput kegiatan PSMS Medan.Selanjutnya para wartawan yang berjumlah sekitar 30 orang, langsung keluar dari stadion. Sedangkan Ramli, yang juga Wakil Walikota Medan, hanya terpelongo saat menerima pengembalian pas masuk itu."Tindakan ini terpaksa dilakukan karena arogansi panitia. Mereka melarang wartawan melakukan peliputan karena berbagai alasan," kata Ariadi, Ketua Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut.Menurut Ariadi, aksi boikot ini akan berlangsung selama satu musim kompetisi, atau sampai tuntutan mereka dipenuhi, yakni meminta oknum panitia yang arogan dikeluarkan dan memberikan penghargaan atas profesi jurnalis. Oknum dimaksud adalah Usman Jabrik, jajaran panitia yang memunculkan ide pembatasan akses liputan bagi wartawan.Kekecewaan wartawan, terutama karena di depan pintu masuk ada pengumuman larangan wartawan masuk ke tribun tertutup. Larangan itu juga berlaku kepada anggota TNI atau Polri yang bukan termasuk panitia bidang pengamanan pertandingan.Sejumlah wartawan yang terbentur dengan aturan ini, kemudian mempertanyakan. Namun jawaban yang diberikan cukup mengagetkan. Wartawan dituding hanya membuat rugi karena masuk tanpa tiket. Padahal pemasukan dari tiket merupakan salah satu sumber pendapatan PSMS untuk membiayai pertandingan-pertandingannya. "Pernyataan panitia ini sangat arogan. Kalau mau dilihat lebih teliti, sebetulnya panitia yang banyak sekali memasukkan penonton tanpa tiket," kata Ariadi. (lom/)











































