Velappan Benar, PSSI Termasuk Tidak Profesional

Velappan Benar, PSSI Termasuk Tidak Profesional

- Sepakbola
Selasa, 28 Feb 2006 08:01 WIB
Velappan Benar, PSSI Termasuk Tidak Profesional
Jakarta - Sekjen Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) Peter Velappan dua pekan lalu diprotes negara-negara ASEAN karena menyebut manajemen sepakbola ASEAN tidak profesional. Padahal sesungguhnya ia benar.Tanggal 12-19 Februari lalu, asosiasi sepakbola negara-negara ASEAN berkumpul di Malaysia dalam salah satu program pelatihan manajemen yang diselenggarakan FIFA. Sebagian peserta pelatihan tersebut kemudian tersinggung karena di depan forum Velappan menyebut kepemimpinan dan manajemen sepakbola di kawasan tersebut tidak profesional.Pernyataan pria asal Malaysia itu langsung mendapat reaksi keras, terutama dari tuan rumah. Akhirnya negara-negara ASEAN termasuk Indonesia mengirimkan surat ke Presiden FIFA Sepp Blatter, yang isinya memprotes pernyataan Velappan.Sekjen PSSI Nugraha Besoes sekembalinya di Jakarta usai mengikuti pelatihan tersebut, menjelaskan kepada detiksport bahwa negara-negara ASEAN tersinggung atas pernyataan Velappan. Kang Nug -- demikian Nugraha Besoes akrab disapa -- menilai pernyataan Velappan tidak pada waktu dan tempat yang tepat.Tetapi benarkah demikian? Jika melihat kasus yang menimpa Arema Malang dan Persipura, patutkan Indonesia ikut memprotes Velappan ke FIFA? Terlambat menyerahkan daftar pemain ke AFC di zaman teknologi komunikasi yang serba canggih seperti saat ini adalah kesalahan yang sama sekali tidak perlu terjadi. Bukankah ini bukti organisasi dan manajemen sepakbola kita memang tidak profesional?Tidak hanya kesal dengan ketidakprofesionalan PSSI, masyarakat sepakbola tanah air dibuat geram dengan kesan lambannya pertanggungjawaban dari mereka yang terlibat. Sudah tidak profesional, kini PSSI juga terkesan tidak sportif. Sesungguhnya Indonesia sangat tidak pantas ikut memprotes Velappan.Sejak beberapa bulan terakhir, PSSI sebenarnya sedang mendapat pujian. Berbagai pelanggaran telah ditindak secara tegas. Hukuman terhadap pemain dan klub "nakal", evaluasi terhadap kinerja wasit, hingga sanksi disiplin terhadap klub yang suporternya berulah. Tentu saja ini adalah nilai positif yang harus dipertahankan. Tetapi jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga. PSSI juga harus bisa tegas dan disiplin dalam mengurus permasalahan rumah tangganya, termasuk membersihkan "nila" yang memang tidak diperlukan. Masih bisa? (lom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads