ADVERTISEMENT

Respons PSSI soal Tagihan Utang Rp 672 Miliar

Muhammad Robbani - Sepakbola
Sabtu, 19 Mar 2022 19:23 WIB
Yunus Nusi dan PSSI
Sekjen PSSI Yunus Nusi. Foto: dok. PSSI
Jakarta -

PSSI buka suara soal utang Rp 672 miliar yang ditagih perusahaan Belgia, Target Eleven. PSSI menyebut utang tersebut adalah warisan PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).

Masalah utang ini menyeret PSSI, yang pada akhirnya dilaporkan Target Eleven ke Badan Arbitrase Olahraga (CAS). Target Eleven sudah tak mau menunggu lagi pembayaran utang dari PSSI.

Sementara PSSI menilai bahwa utang yang dimaksud seharusnya dialamatkan ke LPIS. Sekitar 1 dekade lalu, LPIS eksis sebagai operator kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI).

"PSSI berniat baik untuk menyelesaikan kasus ini. Namun, Target Eleven bersikeras untuk menyeret administrasi sekarang yang tidak tahu menahu mengenai perjanjian yang terjadi hampir satu dekade yang lalu," kata Sekjen PSSI Yunus Nusi dalam pernyataan federasi.

"Sementara itu, pihak LPIS tidak pernah disinggung dan dilibatkan oleh oleh Target Eleven dalam kasus ini," ujarnya menambahkan.

Imbas Dualisme di Masa Lalu

LPIS adalah operator kompetisi yang menjalankan Liga Primer Indonesia (LPI) yang pernah diselenggarakan pada 2011-2013. LPI merupakan kompetisi dikategorikan sebagai breakaway League dan berjalan beriringan dengan Indonesia Super League (ISL).

Kompetisi sempat kemudian menjadi kompetisi resmi, sementara ISL gantian menjadi breakaway league. Dualisme kompetisi inilah yang pada akhirnya menyebabkan dualisme di beberapa klub Indonesia.

Nah, dijelaskan PSSI bahwa Target Eleven berkerja sama dengan LPIS saat menjalankan LPI. Dari kerja sama inilah kemudian muncul utang, yang pada akhirnya tak terbayar karena berbagai masalah yang terjadi di sepakbola Indonesia.

Menurut laporan media Belgia, RTBF, kerja sama dengan Target Eleven terjalin sejak 2011. Pada 2013, kedua belah pihak pun bertemu dan sepakat untuk meningkatkan profesionalisme sepakbola, Pemerintah Indonesia disebut ikut terlibat dalam kesepakatan ini.

Pada perjalanannya, kerja sama ini tidak berjalan mulus karena masalah yang menimpa sepakbola Indonesia. Mulai dari dualisme federasi dan kompetisi, pemain tak mendapat haknya, match fixing, hingga jatuhnya banned dari FIFA pada 2015.

Masalah-masalah itu disinyalir menjadi penyebab macetnya pembayaran dari PSSI ke Target Eleven. Perusahaan yang bergerak di bidang marketing olahraga itu pun pada akhirnya memutuskan melaporkan PSSI ke CAS pada 9 Juni 2021.

PSSI Dilaporkan ke CAS

Sebenarnya PSSI punya niatan baik untuk menyelesaikan masalah ini sehingga Target Eleven sempat menunda pelaporan ke CAS. Tapi berbulan-bulan tak ada kabar baik, Target Eleven memutuskan untuk melapor PSSI ke CAS.

Patrick Mbaya kemudian melapor ke pengadilan bahwa upaya penyelesaian sudah tak ada lagi dari pihak PSSI. Federasi sepakbola Indonesia dianggap hanya menunda-nunda waktu saja tanpa berniat menyelesaikan kewajibannya.

"Jumlah yang harus dibayar memang signifikan dan itu karena pekerjaan yang sudah dilakukan (Target Eleven) selama beberapa tahun dan kompensasi atas hilangnya pendapatan berdasarkan kontrak utama yang seharusnya kami tandatangani untuk liga, seperti hak siar televisi sebesar 1,5 miliar atau 150 juta USD/tahun," kata Patrick Mbaya.

"Sambil menunggu keputusan sementara dari pengadilan arbitrase, Target Eleven baru saja menunjuk "arbiter" dan PSSI memiliki sepuluh hari untuk melakukan hal yang sama. Jika tidak dilakukan pada 21 Maret, Ketua Pengadilan akan menjalankan perkara ini. Para arbiter ini kemudian harus memilih seorang presiden untuk menyusun arbitrase," tulis RTBF.

(krs/mrp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT