PSSI tengah merancang upgrade Filosofi Sepakbola Indonesia (Filanesia). Sebagai langkah awal, federasi mendengarkan masukan-masukan terlebih dahulu.
Banyak pihak yang diundang PSSI untuk memberikan sarannya terkait pakem filosofi sepakbola yang sesuai dengan pemain Indonesia. Masukan-masukan ini ditampung PSSI dalam sebuah acara bertajuk 'Upgrade Filanesia' yang sudah digelar sejak 6 Desember dan akan berakhir pada 19 Desember, di Hotel Mercure, Jakarta Selatan.
Pada, Jumat (16/12/2022), giliran jurnalis peliput sepakbola yang diberikan kesempatan untuk memberikan masukan-masukannya. Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri bersama dua pelatih senior yakni Mundari Karya dan Emral Abus terlebih dahulu memaparkan ide-idenya soal gaya sepakbola yang cocok buat Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat penayangan video laga Timnas Indonesia U-16, Mundari Karya menyebut bahwa permainan anak-anak asuh Bima Sakti itu merupakan representasi Filanesia. Sebab, penanaman Filanesia memang ditanamkan ke pemain usia muda yang diharapkan nantinya menjadi ciri bermain mereka di fase profesional (senior).
Indra Sjafri menyatakan harapannya, ke depannya permainan Timnas Indonesia tidak akan lagi meninggalkan kesan monoton. Dengan berlandaskan Filanesia, ada opsi-opsi tertentu yang bisa diambil pelatih kala menemui jalan buntu dalam laga Timnas Indonesia dari berbagai kelas usia.
"Saya ambil contoh Brasil, mereka punya gaya main atraktif meski beresiko akan membuat mereka kalah. Itu terlihat saat mereka kalah dari Kroasia (kalah 2-4 adu penalti setelah bermain imbang 1-1 sampai babak tambahan). Kalau saya pelatihnya mungkin akan menerapkan permainan defensif ketika sudah unggul," kata Indra Sjafri dalam pemaparannya.
"Tapi itu memang ciri Brasil, pemain-pemainnya sudah tertanam untuk menampilkan permainan yang terbuka (menyerang). Meski pada akhirnya mungkin federasinya akan mengevaluasi hal itu. Filanesia nanti juga diharapkan akan menampilkan ciri bermain Indonesia," ujarnya menambahkan.
Dalam rancangan upgrade Filanesia, formasi dengan menggunakan empat bek masih dikedepankan. Hal ini menjadi catatan tersendiri dari sejumlah jurnalis, mengingat Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong lebih cenderung menggunakan formasi tiga bek.
Terkait hal itu, Indra Sjafri menyebut bahwa seorang pelatih harus beradaptasi dengan kelebihan pemain yang dipilihnya. Indonesia terkenal akan kecepatan para pemainnya, maka formasi yang mengandalkan pemain sayap harus menjadi prioritas.
"Formasi itu yang menentukan pemain, pelatih menyesuaikan dengan keadaan. Makanya kami masih memilih formasi seperti 4-3-3 buat Filanesia. Dalam sport science bahkan posisi pemain bisa ditentukan dari asal daerah mereka, hingga golongan darah," tutur Indra Sjafri.
"Hal ini pernah saya lakukan ketika mengubah posisi Asnawi (Mangkualam), dari pemain nomor 6 (gelandang penghubung dengan barisan bek), menjadi fullback kanan. Sebelum itu, saya lebih dulu melakukan konsultasi-konsultasi," ucapnya.
Selanjutnya, PSSI akan mengundang perwakilan klub Eredivisie, Feyenoord. Diharapkan masukan dari mereka akan menjadi pembelajaran berharga buat perkembangan sepakbola Indonesia.
"Alhamdulillah ini sudah hari yang ke-11 upgrade Filanesia. Sejak 2017 Filanesia sudah menjadi program khusus. Kali ini kami melakukan evaluasi dan upgrade dengan mengundang para mantan pemain tim nasional," kata Indra Sjafri.
"Untuk kesuksesan acara ini, kami sangat berterima kasih kepada Menpora (Zainudin Amali), sinergi yang baik antara PSSI dengan Kemenpora yang sudah berjalan kurang lebih tiga tahun sangat membantu dalam berjalannya acara ini," katanya lagi.
(aff/pur)