'Dibilang Bonek Kok Bangga'
Selasa, 05 Sep 2006 12:02 WIB
Jakarta - Untuk kesekian kalinya pendukung Persebaya Surabaya yang lebih dikenal sebagai bonek (bondho nekat) kembali berulah. Padahal baru beberapa pekan lalu mereka juga dijatuhi sanksi. Kerusuhan yang dibuat oleh bonek Persebaya tercatat sebagai yang kedua kali dalam tempo empat pekan. Tiga pekan lalu, bonek juga baru mendapatkan sanksi lima kali tidak boleh mendampingi timnya saat away, menyusul ulah mereka yang memasuki lapangan pertandingan sewaktu Persebaya menghadapi Persis Solo di final divisi satu. Jika mengingat pengalaman tahun lalu maka daftar kesalahan bonek bakal lebih panjang. Masih ingat hukuman degradasi ke divisi satu yang diterima Persebaya gara-gara mundur di babak 8 besar? Alasan yang diberikan klub ketika itu adalah karena ingin menyelamatkan para bonek agar tidak disakiti. Kerusuhan demi kerusuhan yang dibuat bonek makin menegaskan fanatisme berlebihan yang ditunjukkan oleh mereka. Padahal bukan cuma bonek yang fanatik dengan klubnya di negeri ini. "Di Indonesia bukan cuma bonek saja yang fanatik. Semua fanatik. Tetapi cuma mereka yang bikin onar terus. Saya nggak ngerti apa karena mereka bangga dengan istilah bondho nekat itu? Jadinya malah nekat beneran," kata pengamat sepakbola Ronny Pattinasarani saat dihubungi detiksport, Selasa (5/8/2006).Masih menurut Ronny, pelanggaran yang kesekian itu membuktikan bahwa para bonek memang belum jera dengan hukuman demi hukuman yang diberikan oleh PSSI. Lalu apa yang harus dilakukan agar mereka tidak berulah lagi? Sanksi yang mendidik tak bisa ditawar-tawar lagi."Semua harus punya komitmen bersama bagaimana memberikan sanksi yang mendidik supaya tidak jadi kebiasaan. Kemarin di Kediri mereka baru dihukum lima kali nggak boleh mendampingi timnya saat away," jelasnya. Ronny mencontohkan sanksi yang mendidik itu sebagai larangan bermain tanpa penonton di kandang. Namun sebetulnya hal tersebut sudah pernah dilakukan.Di awal tahun 2000 Persebaya pernah dilarang bertanding di kandang sendiri karena fansnya sering rusuh. Bahkan, larangan yang dikeluarkan Polda Jawa Timur dan didukung Gubernur Imam Utomo itu berlaku untuk seluruh wilayah Jatim. Saat itu, Persebaya nyaris dicabut partisipasinya dari Liga Indonesia VI. (mel/)











































