Kompetisi sepakbola di Indonesia kembali marak dengan rusuh suporter. Apakah PSSI dan operator Liga akan segera menerapkan sanksi pengurangan poin?
Sebanyak dua kerusuhan suporter terjadi di Liga 1 dan sekali di Liga 2 dalam durasi 15 hari. Yang terbaru, PSIS Semarang vs PSS Sleman, Minggu (3/12/2023), dihentikan saat injury time, karena pendukung tim menginvasi lapangan.
Di Stadion Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, PSIS unggul 1-0 atas PSS. Terjadi aksi melempar di tribune hingga ada yang masuk ke lapangan. Bahkan, bos PSIS, Yoyok Sukawi, sampai mendapatkan delapan jahitan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat PSIS vs PSS, ternyata ada pendukung tim tamu yang melakukan away day. Padahal, ada larangan untuk suporter tim tamu datang ke stadion di Liga 1 musim ini. Hal itu merupakan buntut dari Tragedi Kanjuruhan yang memakan 135 korban jiwa.
Sebelum itu, pendukung Persib Bandung juga bentrok dengan polisi saat lawatan ke kandang Dewa United. Polisi menghalau pendukung tim tamu yang memaksa masuk ke stadion, pada 26 November 2023.
Bentrokan tak terhindarkan, hingga ada sebanyak 12 orang terluka. Rinciannya, sebanyak delapan orang dari pihak kepolisian, empat lainnya dari pihak suporter.
Pada 19 November juga terjadi kericuhan di Liga 2. Momen itu terjadi pada laga Gresik United vs Deltras. Laskar Joko Samudro menelan kekalahan dari tamunya 1-2, suporter tuan rumah ingin melakukan protes ke manajemen yang akhirnya bentrok dengan aparat.
Presidium Nasional Suporter Sepak Bola Indonesia (PN-SSI) meminta federasi, PSSI, dan operator Liga, PT Liga Indonesia Baru, bisa mengambil langkah sigap mengenai hal ini. Lewat Sekjen PN-SSI, Richard Ahmad, permintaan itu disampaikan.
"Kejadian ini sering muncul yang tidak pernah kita duga. Panpel harus jeli dalam mengantisipasi H-7 dalam mendeteksi kerawanan kerawanan titik suporter, dan saya kira operator liga, serta federasi harus ambil langkah langkah cepat untuk mengambil tindakan," kata Richard saat berbincang dengan detikSport.
Pada awal menjelang bergulirnya liga, sempat ada wacana bahwa tim yang suporternya rusuh akan mendapatkan hukuman pengurangan poin. Tapi, sanksi pengurangan poin itu disebut PSSI belum terakomodir dalam aturan. Richard menyebut wacana untuk sanksi pengurangan poin ini sudah tepat agar bisa memberi efek jera.
"Ini wacana saya kira sudah tepat, tinggal eksekusi saja. Supaya ada efek jera. Tinggal kondisinya mau atau tidak," kata Richard.
"Yang saya lihat juga sudah banyak yang hilang di era sekarang di kalangan suporter, misalnya adat ketimuran kita," kata dia menambahkan.
Sebagai salah satu wadah komunitas suporter, PN-SSI langsung mengambil langkah cepat usai kerusuhan suporter di laga PSIS vs PSS.
"Kami lagi redam dan kami lagi mapping permasalahannya. Semoga dalam waktu cepat bisa, karena semalam langsung kami lakukan zoom semua pimpinan suporter dan komite ad hoc supporter juga ikut," kata Richard menegaskan.