Kolev Menuju Lubang Lama

Kolev Menuju Lubang Lama

- Sepakbola
Selasa, 23 Jan 2007 08:30 WIB
Kolev Menuju Lubang Lama
Jakarta - PSSI akhirnya kembali ke Ivan Kolev. Tanpa target tinggi, pria Bulgaria itu diharapkan bisa meniti jalan lama, tanpa jatuh di lubang yang sama.Kekecewaan di Piala AFF 2007 sulit diterima. Tekanan pun meningkat untuk menghentikan ekspektasi serta anggaran besar era Peter Withe.Beberapa nama dipertimbangkan sebagai kandidat. Dari pelatih asing yang muncul antara lain Ivan Kolev, Sergei Dubrovin, Miroslav Janu dan Fandi Ahmad. Sementara yang lokal seperti Syamsudin Umar, Benny Dollo, Rachmad Darmawan dan Daniel Roekito.Akhirnya PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola Indonesia menunjuk Kolev sebagai pelatih Ponaryo Astaman cs.Dijelaskan PSSI dalam jumpa pers, Senin (22/1/2007), ada beberapa kriteria yang ditetapkan untuk mencari pengganti Withe. Kenal terhadap karakter sepakbola Indonesia, komunikasi dan capability adalah hal terpenting dan dinilai ada dalam Kolev.Pelatih asal Bulgaria itu pernah menangani tim "Merah Putih", era 2002-2004. Masalah komunikasi menjadi salah satu ganjalan yang mengakhiri episode pertama Kolev di timnas. Tetapi kini komunikasi dinilai sudah tidak masalah lagi. Sejak 2006 lalu, mantan pelatih timnas U-23 Bulgaria itu sudah kembali ke Indonesia menangani Mitra Kukar Tenggarong, dan sempat menandatangani kontrak bersama Persipura sebelum diminta kembali oleh PSSI.Lantas bagaimana dengan kemampuan? Jika melihat catatan prestasi dan pengalamannya, harus diakui Kolev memang layak, meski prestasi yang diraihnya di luar Indonesia. Setelah Thailand, Myanmar yang ditanganinya selama dua tahun (2004-2005), kini telah menjelma menjadi salah satu kekuatan besar di Asia Tenggara.PSSI tentu ingin ada perubahan yang lebih baik. Tetapi otoritas tertinggi sepakbola Indonesia yang dipimpin Nurdin Halid, tidak menginginkan adanya perombakan di tubuh timnas bentukan Withe. Ini diperlihatkan dengan dipertahankannya Syamsudin Umar sebagai asisten timnas senior.Sayangnya PSSI justru memberikan target yang samar, yakni tidak menjadi bulan-bulanan di Piala Asia 2007. Satu grup dengan Arab Saudi, Korea Selatan dan Bahrain, posisi Indonesia memang tidak diunggulkan. "Bukannya merendah, tetapi kita tidak mau menjadi lumbung gol," ujar Sekjen PSSI Nugraha Besoes.Tetapi apa betul Kolev sekarang berbeda dengan Kolev yang dibuang 2004 lalu? Mengapa prestasi di Piala Asia 2004 yang dulu dinilai masih kurang, kini justru jadi referensi?Ini menunjukkan PSSI telah mengkaji ulang prestasi Kolev di periode yang lalu. Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia 2004, dan untuk pertama kali merasakan kemenangan di ajang Piala Asia dengan menekuk Qatar 2-1.Hasil tiga poin dari tiga pertandingan, serta memasukkan tiga gol dan kemasukan sembilan, sepertinya juga sudah termasuk 'tidak menjadi bulan-bulanan'.PSSI memang tidak punya banyak pilihan. Mempertahankan Withe, terbentur dengan tekanan. Sementara waktu yang hanya tersisa enam bulan menjelang Piala Asia 2007 juga harus dipertimbangkan. Pemilihan Kolev setidaknya telah mengurangi masalah adaptasi yang wajib dihadapi wajah baru.Kini PSSI telah menentukan pilihan. Sepakbola Indonesia dibawa menapaki jalan yang pernah dilalui. Semoga Kolev belajar dari pengalaman, agar tidak jatuh di lubang sama. (lom/key)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads