Sponsor Butuh Kompetisi Ideal

Klub Tanpa APBD

Sponsor Butuh Kompetisi Ideal

- Sepakbola
Selasa, 06 Feb 2007 13:54 WIB
Jakarta - Tanpa APBD, klub hanya akan bisa bertahan jika memperoleh suntikan dana dari sponsor. Untuk mendapatkannya, harus diciptakan kondisi kompetisi yang ideal.Idealnya klub sepakbola memang harus dikelola secara profesional, tidak tergantung bantuan dan akhirnya juga kebijakan pemerintah daerah.Dengan adanya Permendagri 13/2006, klub-klub di Indonesia seakan dipaksa untuk menjadi profesional. Hal ini bukan tidak mungkin. Tetapi untuk mendapatkan penanam modal, kondisi kompetisi harus dibuat seideal mungkin.Sponsor akan tertarik jika hasil yang diperoleh positif. Kalau bisa, uang yang diberikan dengan imbal promosi, bisa menghasilkan prestasi, suporter fanatik yang kreatif, menghibur dan tidak rusuh.Besar kecilnya klub, memang berpengaruh pada jumlah suporter. Tetapi bukan berarti klub kecil tidak punya pendukung. Semua tergantung pengeloloaan dan manajemen yang profesional.Direktur Keuangan Manchester United Peter Drapper saat berkunjung ke Jakarta awal 2006, kepada detiksport sempat menyinggung bagaimana caranya mengelola klub mulai dari kecil."Jika Anda tidak bisa dapat yang besar, dapatkan yang kecil... Yang penting lakukan apa yang Anda katakan akan Anda lakukan. Pastikan pekerjaan Anda berlangsung tiap minggu, bukan minggu berikutnya."Draper menyaksikan klub yang dikelolanya bisa berkembang karena pengelolaan yang profesional dan disiplin. Butuh perencanaan yang bagus, dan orang-orang yang kompeten untuk menjalankannya.Itu baru dari pengelolaan klub. Manajemen juga harus menciptakan kesan 'hiburan' pada sepakbola, sehingga orang tidak takut datang ke stadion. Betapa sejuk mata menonton pertandingan sepakbola, yang di antara suporternya terdapat anak-anak bersama orang tuanya.PSSI sebagai wadah yang mengkoordinasi seluruh kompetisi sepakbola profesional di Indonesia, pun dituntut profesional. Aturan soal sponsor, jatah hak siar, pengaturan jadwal dan lama kompetisi hingga kualitas liga baik, harus menjadi tujuan yang prioritas.Contoh kasus yang bisa dijadikan contoh, seperti soal sponsorship Arema dengan Bentoel yang berbenturan dengan kesepakatan PSSI dengan Djarum sebagai sponsor utama Liga Indonesia.Demikian juga perbandingan kompensasi hak siar untuk klub, dengan pendapatan yang diperoleh dari penjualan tiket. Kebanyakan klub lebih suka jika pertandingannya tidak disiarkan secara langsung, demi menjamin jumlah penonton yang hadir di stadion.Sampai saat ini belum ada klub yang memiliki rencana menyambut perubahan besar tahun 2008. Tetapi jika PSSI bersikap tegas dan berfikir untuk perubahan demi kemajuan, klub akan terbantu dalam menyusun rencana. (lom/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads