'Sudahlah, Nurdin Diganti Saja'
Jumat, 02 Nov 2007 15:11 WIB
Jakarta - Kontroversi bertahannya PSSI pada Nurdin Halid sebagai ketua umum menjadi salah satu topik diskusi milis redaksi detiksport. Intinya, semua menginginkan Nurdin lengser. Cukup banyak anggota milis redaksi kami Anda bersuara tentang masalah ini, terutama setelah FIFA mengeluarkan permintaan agar PSSI mencari figur pemimpin lain yang bukan seorang terpidana kasus tindak kriminal.Dengan pertimbangan keredaksian, tidak semua suara anggota milis kami muat. Berikut ini beberapa contohnya:Roni Yendri:Kayaknya memang harus di ganti tuh ketuanya. Kita sebagai pecinta persepakbolaan nasional malu.Sepertinya para pengurus PSSI yang telah memilih ketua gak punya rasa malu deh. Masak orang pesakitan dijadikan pemimpin, dan pastinya yang memilih sebagai ketua juga pada sakit semuanya.Bukannya cuma jadi ketua PSSI, tapi yang paling menyedihkan, sudah jelas-jelas sebagai tersangka, eh malah dilantik sebagai yang katanya WAKIL RAKYAT.Jadi tunggu apa lagi para pengurus PSSI: PECAT NURDIN. Gantikan dengan orang yang tidak berkepentingan di dunia politik, pilih orang yang cinta dan hanya ingin sepakbola Indonesia tampil sebagai yang terbaik. Banyak kok di negara ini yang mencintai sepakbola tanpa kepentingan politik.Chairul:Ini tidak hanya menunjukkan bentuk loyalitas yang salah, tapi juga membuktikan bahwa PSSI memang kuat dengan jaringan orang-orang yang patuh dan taat kepada pimpinannya.Siapapun orang yang masuk ke pengurus PSSI, kalau ketua nya adalah orang-orang birokrat, tetap saja roda organisasi berjalan seperti begini terus. Dari beberapa kesempatan saya selalu bilang: carilah pengurus pssi di luar birokrat, ATAU cari lembaga yang benar-benar independen untuk mengurusnya, ATAU kalau perlu PSSI diurus oleh lembaga luar negeri biar kenetralannya nyata."Jadmiko:Seharusnya hal ini bisa dijadikan momentum untuk reformasi di tubuh PSSI. Jelas sudah, memilih ketua umum dari kalangan yang bukan profesional (dalam arti masih punya profesi di bidang lain) adalah sangat tidak sehat. Saatnya sekarang PSSI dipimpin oleh seorang profesional, yang tidak memiliki jabatan politik, maupun jabatan di sebuah badan usaha lain.Income PSSI dari perputaran roda kompetisi saya yakin sudah sangat besar, cukup untuk menggaji orang-orang profesional di bidang persepakbolaan.Agus Sya'ban:Dilihat dari sisi etika ataupun institusional, Nurdin itu harus udah turun.Kalo FIFA aja gak "mempan" buat nurunin Nurdin, apa Wapres bisa? Tapi ini bukan semata-mata soal turunnya ketua Umum PSSI, tapi soal kemajuan sepakbola Indonesia!!!!Intinya, sudah saatnya PSSI dipimpin oleh orang yang memang mendedikasikan dirinya untuk kemajuan sepakbola nasional, netral dan memiliki trek rekor bagus, baik secara etika hukum dan loyalitas terhadap sepakbola nasional.Tetet Asmoro:Sepakbola Indonesai adalah sepakbola kelas penjara, mungkin Anda semua taksetuju dengan pendapat ini, tapi menurut saya begitulah kenyataannya. Semua initidak lain disebabkan oleh induk organisasi sepakbola kita, PSSI. Menurut sayaPSSI adalah organisasi yang tidak memiliki wibawa dan harga diri di negeri ini,mengapa? Alasannya sangat jelas, Bagaimana mungkin sebuah organisasi bisadikendalikan oleh seorang narapidana yang sedang menjalani hukuman di balikterali besi. Apa tidak ada lagi orang lain yang punya kemampuan mengelola sepakbola. Edannya lagi, saat ini untuk kedua kalinya PSSI dipimpin dari dalampenjara. Meski Status Pak Nurdin Khalid masih tersangka tapi bolehkah initerjadi?Sebagai masyarakat pecinta sepakbola berulang kali saya tidak habis pikir.Bagaimana bisa mendulang prestasi jika pimpinannya saja sedang di bui.Dalam keadaan ini saya heran dengan orang-orang yang berargumentasi membelakeberadaan Nurdin Khalid di PSSI. Saya sendiri tidak benci sama Nurdin dan tidak punya hubungan apa-apa, ketemu saja tidak pernah, kecuali melihat dia di televisi.Jadi jangan pernah kaget kalo ada kasus seperti skandal Medan Jaya atau skandal pengaturan skor, wasit berat sebelah dan lain-lain, lha wong ketua PSSI-nya saja seorang terpidana.Saya tidak bermaksud tendensius terhadap PSSI atau Nurdin Khalid, saya cuma mau mengingatkan bahwa PSSI adalah organisasi publik yang mewakili nama bangsa dan negara. Bukan organisasi individu. Artinya, jika timnas PSSI kalah, maka semua orang di negeri ini akan merasa disakiti dan sedih. Jika Bangsa Indonesia dihina bangsa lain, maka kita semua pasti tidak terima. Intinya saya cinta PSSI, cinta sepakbola, cinta Indonesia, dan saya bangga jadi orang Indonesia. Untuk itu kebanggaan ini harus tetap dijaga. Selain berprestasi di arena yang lebih besar, tentu saja menjaga harga diri dan kewibawaan organisasi mutlak hukumnya. Sebab hal itu juga ikut menentukan harga diri dan kewibawaan bangsa. Dan tidak pernah ada organisasi yang berwibawa jika pemimpinnya adalah narapidana yang sedang menjalani hukuman atau tersangka sebuah kasus kriminal, korupsi, atau lain-lain. (a2s/din)










































