Berharap Cinta Bung Nurdin

Kolom

Berharap Cinta Bung Nurdin

- Sepakbola
Minggu, 04 Nov 2007 23:33 WIB
Berharap Cinta Bung Nurdin
Jakarta - Sepakbola Indonesia kini berada di depan keterpurukan yang lebih dalam. Saat hukum dan dinding penjara tak juga mampu menurunkan Nurdin Halid, kita berharap cinta bisa menyadarkan dia untuk melepaskan jabatannya.Sebagai seorang ketua induk organisasi olahraga, idealnya Nurdin Halid menjadi contoh betapa nilai-nilai sportivitas harus ditegakkan. Sayang ketuan umum PSSI sejak tahun 2003 itu justru memilih untuk melanggar nilai-nilai yang selalu dia tanamkan ke atlet-atletnya.Terbukti bersalah terlibat kasus korupsi untuk kali kedua, menyalahi statutanya sendiri saat melakukan pemilihan ulang April lalu sampai munculnya surat FIFA yang meminta diadakan pemilihan ulang tak juga membuatnya terpanggil untuk melangkah turun dari kursi nomor satu PSSI. Ada banyak alasan yang membuat seseorang memutuskan terjun dan berkecimpung di organisasi olahraga. Mungkin mencari keuntungan materi atau menjadi sarana politis, tapi pasti banyak pula yang murni 100% dilandasi pengabdian. Marilah kita berharap Bung Nurdin berada di Pintu XI Stadion Gelora Bung Karno karena alasan yang terakhir, karena kecintaannya pada sepakbola.Kecintaan yang mungkin bisa kita lihat sejak dia menjabat pengurus di PSM Makassar. Bersama Juku Eja, Nurdin yang menjabat manajer sempat mengantar mereka merengkuh gelar juara Ligina tahun 2000.Saat itu Nurdin sangat total membangun klub kota kelahirannya itu. Kedatangan nama-nama besar Kurniawan Dwi Julianto, Hendro Kartiko, Bima Sakti, Miro Baldo Bento dan Suwandi HS hingga legium asing sekelas Carlos De Mello (Brasil) dan Joseph Lewono plus pelatih Henk Wullems menjadi bukti kecintaannya pada sepakbola dan menunjukkan hasrat besar untuk berprestasi. Saat terpilih menjadi ketua umum PSSI dalam kongres kongres Hotel Indonesia tahun 2003 pria kelahiran Watampone, 17 November 1958 itu pun langsung menunjukkan hasrat besarnya untuk membawa sepakbola Indonesia berprestasi. Dia meminta pembinaan sepakbola secara berjenjang untuk mencetak pemain berkualitas terus diperbaiki, juga masalah mafia wasit kasus pengaturan skor yang saat itu marak terjadi.Di kesempatan keduanya memimpin PSSI target lain dicanangkan. Dengan visi 2020-nya, Nurdin bertekad membawa Indonesia berlaga di pentas dunia.Okelah banyak cacat yang kemudian ditemui dalam empat tahun kepemimpinannya. Mulai kasus diskon besar-besaran terhadap Persebaya Surabaya, pencoretan Arema Malang dan Persipura Jayapura dari Liga Champions Asia hingga akhirnya muncul surat FIFA yang menghebohkan itu.Tak kunjung menorehkan prestasi di tingkat internasional, Indonesia kini malah terancam terpuruk lebih dalam jika FIFA sampai menjatuhkan sanksi pada pada PSSI. Kita pun kini harus bersiap dilarang berpatisipasi di semua event milik FIFA, dan tentunya juga AFC.Nurdin Halid harusnya sadar dan mestinya tahu kalau itu sampai terjadi maka akan menjadi musibah bagi persepakbolaan Indonesia. Persepakbolaan yang selama empat tahun terakhir coba dikembangkannya dan berusaha dibawanya ke pentas yang lebih besar.Kita berharap Nurdin Halid terjun ke PSSI murni karena ingin mengabdi pada persepakbolaan Indonesia, dan menjadi ketua umum PSSI karena kecintaannya pada sepakbola Indonesia. Pepatah kuno menyebut cinta tak harus memiliki, dan mungkin kini saatnya Bung Nurdin merelakan "cintanya" pergi dengan melepas jabatan ketua umum. Bukankah cinta yang dipaksakan justru melahirkan ketidakharmonisan?Ayo Bung Nurdin, tunjukkan cinta tulusmu pada sepakbola Indonesia. (din/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads