Yang Lokal Tak Kalah Berakal

Pelatih Timnas Indonesia

Yang Lokal Tak Kalah Berakal

- Sepakbola
Selasa, 08 Jan 2008 14:32 WIB
Yang Lokal Tak Kalah Berakal
Jakarta - Kepastian akan terpilihnya sosok dalam negeri sebagai pelatih tim nasional sepakbola Indonesia rasanya patut diapresiasi. Pasalnya, meski lokal, mereka sebetulnya tak kalah kualitas.

Lima tahun sudah Indonesia ditangani pelatih asing. Tahun 2002, nama Ivan Venkov Kolev masuk sebagai arsitek timnas menggantikan Benny Dollo. Namun Kolev hanya bertahan dua tahun sebelum digeser oleh Peter Withe. Kolev kembali terpilih pada awal 2007, sebelum ujungnya dipecat pasca kegagalan di SEA Games 2007.

Setelah mempercayai dua pelatih dari luar negeri, rupanya PSSI sebagai penentu kebijakan agaknya kini lebih memprioritaskan pelatih lokal sebagai penerus Kolev.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keputusan untuk kembali pelatih produk dalam negeri itu lantas akhirnya mengerucut menjadi dua nama kandidat terkuat. Mereka adalah Benny Dollo, yang di musim ini melatih Persita Tangerang, dan Rahmad Darmawan, pelatih Sriwijaya FC.

Benny sempat digadang-gadang sebagai calon tunggal sebelum akhirnya Badan Tim Nasional (BTN) juga mengajukan nama Rahmad ke PSSI.

Dari segi kualitas, pelatih lokal sebenarnya tak kalah kelas dibanding mereka yang berkebangsaan asing. Dua nama di atas pun sudah membuktikan kapasitasnya di level klub dengan membawa klub yang diasuhnya menjadi juara.

Bendol --sapaan Benny Dollo-- misalnya. Selain berpengalaman pernah meracik timnas, ia juga sukses manangani Arema Malang. Dua kali ia mengantar klub asal Malang itu memenangi Copa Indonesia pada tahun 2006 dan 2007 sebelum tahun lalu hijrah ke Persita.

Kiprah terbarunya yang mendapat kredit adalah saat menangani "tim nasional" Indonesia menghadapi klub Jerman Borussia Dortmund. Meski kalah 0-1, pasukan "Garuda" dinilai tampil cukup memuaskan.

Sementara Rahmad memiliki curriculum vitae yang tak kalah memikat. Pelatih asal Lampung itu pernah sukses menahkodai Persipura Jayapura. Tim dari ujung timur Indonesia itu dibawanya menjadi juara Liga Indonesia tahun 2005.

Setelah pindah ke Sriwijaya, tangan emas Rahmad belum juga luntur. Sriwijaya berhasil lolos ke 8 Besar Liga Indonesia dan menembus semifinal Copa Indonesia tahun ini.

Yang menggembirakan, keduanya mengaku siap mengemban tugas sebagai pelatih timnas. Meski masih terikat kontrak dengan klub masing-masing, baik Bendol maupun Rahmad bersedia berkompromi. Soal uang kompensasi kepada klub, biarlah itu menjadi urusan PSSI.

Perkara gaji, BTN sudah memberi sinyal bahwa dia yang terpilih akan memperoleh penghasilan tidak lebih rendah dari apa yang didapat Kolev dahulu. Gaji Kolev sendiri berkisar di angkar US$ 5.000 per bulan, atau sekitar Rp 45 juta.

Siapapun yang terpilih, PSSI sudah menetapkan target untuk membawa tim "Merah Putih" menjadi jawara di Piala AFF yang akan dihelat di Indonesia dan Thailand akhir tahun ini.

Putusan akhir kini ada di PSSI. Kepada siapakah tampuk arsitek tim nasional kebanggan kita tersebut akan diserahkan? (arp/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads