Adalah Sekretaris Umum Yayasan Arema, Satria Budi Wibawa, yang mengungkapkan hal tersebut sesaat sebelum Arema melakukan laga ujicoba dengan Mitra Kukar di Stadion Gajayana, Kamis (10/1/2008) malam.
"Saya siap comeback ke Arema tanpa tambahan (bayaran kontrak) seperti yang saya minta," ungkap Satria menirukan pernyataan Miroslav Janu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Permintan Miro kembali ke kursi pelatih juga disampaikan pada seluruh pemain. Setelah dibahas bersama selama 10 menit barulah diambil keputusan penolakan sekaligus penunjukkan duet Joko Susilo dan Herman Kadiaman sebagai pelatih baru.
"Penetapan Joko dan Herman sebagai pelatih sudah bulat melalui keputusan yang demokratis antara pemain dan pengurus," jelas Satria yang juga mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada Miro yang dianggap telah membangun Arema dan mengantar ke babak delapan besar.
Soal peluang Arema di babak delapan besar, Satria berharap terulangnya sejarah seperti saat di era Galatama tahun 1993. Saat itu Arema menghadapi krisis pemain dan krisis manajemen, namun tetap dapat melaluinya dengan mulus dan bahkan menjuarai Galatama.
"Meski berbeda, semoga sejarah kembali terulang. Saat itu merupakan Galatama terakhir, sekarang juga Liga Indonesia terakhir tahun depan Super Liga," tuturnya.
Dalam kesempatan terpisah Miro menjelaskan alasannya meminta tambahan komisi yang kemudian berbuntut putusnya hubungan dengan Arema. Disebut pelatih asal Republik Ceko itu, komisi tambahan berhak diterima karena dia telah membatalkan kontrak dengan Slavia Praha. "Logis kan, saya harus dapat tambahan komisi," terangnya.
Ditambahkan Miro, persoalan ini mencuat karena molornya kompetisi Liga Indonesia yang biasanya berakhir pada bulan November. Namun di musim ini setelah memasuki bulan Januari kompetisi baru masuk babak delapan besar, padahal kontrak Arema dengan Miro dan para pemain memang sudah berakhir 31 Desember 2007. (din/ian)











































