Gaji Pelatih dan Prestasi Timnas

Kolom

Gaji Pelatih dan Prestasi Timnas

- Sepakbola
Selasa, 15 Jan 2008 17:08 WIB
Gaji Pelatih dan Prestasi Timnas
Jakarta - Benny Dollo alias Bendol digaji Rp 50 juta per bulan untuk bekerja minimal satu tahun sebagai pelatih baru tim nasional Indonesia. Apa prestasi yang bisa ia persembahkan?

Bagi sebagian besar orang di negeri ini, uang sebanyak itu tentulah sangat 'wah' -- kalau tak mau disebut mimpi. Bendol bahkan melebihi gaji bulanan orang kantoran di level middle-manager, atau malahan top-manager di perusahan-perusahaan tertentu.

Hebatnya lagi, bayaran Bendol kira-kira sama dengan gaji seorang presiden di republik ini. Bendol juga masih menang jika dibandingkan dengan anggota DPR, yang penghasilan resminya di kisaran Rp 10-15 juta per bulan, tapi mungkin kalah kalau nilai "sabetan"-nya tidak dihitung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudah sedemikian pentingkah seorang pelatih tim nasional Indonesia sehingga layak digaji tinggi? Jika mau mengikuti tren industri sepakbola, oke-oke saja. Yang diterima Bendol bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tren di luar negeri sana.

Fabio Capello, misalnya. Gaji pokoknya saja sebagai pelatih Inggris mencapai 5 juta poundsterling atau sekitar Rp 90 miliar per tahun (kurs 1 pounds = Rp 18.000). Dirata-ratakan, ia menerima Rp 1,7 miliar per minggu atau Rp 6,8 miliar per bulan.

Jangankan pula disamakan dengan gaji pemain di Eropa. Kita tentu akan geleng-geleng kepala, tak habis pikir dan tak percaya, untuk apa saja Michael Ballack menghabiskan uangnya jika tiap minggu ia dibayar Rp 2 miliar (!) oleh Chelsea.

Kembali ke bumi Indonesia -- supaya kita tidak "sakit hati" --, standar gaji pelaku-pelaku sepakbola sebenarnya layak dibilang membaik. Profesionalitas wajar dibayar lebih mahal -- asalkan tidak ngaku-ngaku profesional padahal hasil kerjanya tak berbeda dengan amatiran.

Menurut Ketua Badan Pelatih Sepakbola Indonesia (BPSI) Muhammad Zein, pemain baru klub-klub divisi utama Liga Indonesia saja rata-rata digaji Rp 20 juta-an per bulan. Artinya, penghasilan mereka dalam setahun kira-kira 200-300 juta.

Bagaimana pelatih? Sepertinya tidak jauh-jauh dari angka itu pula. Dari berbagai sumber, gaji rata-rata pelatih klub lokal Rp 15-30 juta per bulan. Yang punya reputasi lebih mentereng, tentu bayarannya lebih mahal. Pelatih asing bisa lebih tinggi lagi karena biasanya ditambah tunjangan macam-macam seperti rumah/apartemen, ongkos mudik, kendaraan dan sopir pribadinya.

Henk Wullems, misalnya, terakhir ia digaji Rp 50 juta per bulan oleh Persegi Bali FC -- pembayarannya sempat ditunggak selama setengah tahun. Tapi saat dipekerjakan PSM Makassar konon pelatih asal Belanda itu dibayar dua kali lipat.

Rekor gaji pelatih klub lokal saat ini disebut-sebut dipegang oleh Rahmad Darmawan (Sriwijaya FC), sebesar Rp 1 miliar per tahun. Namun pria asal Lampung itu hanya tertawa saat dikonfirmasi detiksport, Selasa (15/1/2008), dan enggan mengatakannya dengan dalih terlarang dalam klausul kontraknya.

Rekor gaji tertinggi untuk seorang pelatih tim nasional Indonesia tampaknya masih dipegang Peter Withe. Orang Inggris ini dibayar 10.000 dolar AS per bulan di luar tetek-bengek lainnya -- atau dua kali lipat dari diterima suksesornya, Ivan Kolev (Bulgaria).

Lalu, apa prestasi signifikan yang mampu dipersembahkan kedua pelatih asing itu buat timnas Indonesia? Tidak ada. Jangankah di level Asia apalagi dunia, di kawasan Asia Tenggara pun pasukan "Merah Putih" tidak nyaring bunyinya.

Uang memang bukan satu-satunya faktor, tapi tetap saja sangat berarti, terutama karena uang itu dari rakyat. Rakyat negeri ini, yang amat menggandrungi dunia bal-balan ini, sudah terlalu lama menantikan satrio piningit yang bisa mengubah pretasi dari utopi menjadi keniscayaan. Tentunya lebih membahagiakan dan membanggakan jika bisa melihat timnas Indonesia mengangkat piala-piala yang ada di dunia ini, ketimbang semata-mata menghabiskan tenaga dan suara untuk membahas dan menyemangati tim-tim asing yang entah siapanya mereka -- nenek moyangnya pun bukan.

Kita pastinya menantikan prestasi apa yang bisa dibawakan Bendol kali ini, sebagaimana penantian itu selalu muncul setiap kali terjadi pergantian pelatih timnas, dan penantian itu tak kunjung selesai.

Sebagai masukan, salah satu hal yang harus dilakukan Bendol (dan PSSI) adalah menjaga kesinambungan kualitas tim. Kebiasaan buruk membuat agenda pelatnas "musiman" sudah saatnya dienyahkan. Selama ini yang terjadi cenderung demikian: timnas dibentuk, pemain dikumpulkan dan dilatih hanya ketika akan menghadapi sebuah turnamen.

Selain mengotaki hal-hal teknis di atas lapangan, hal lain yang wajib dirancang Bendol adalah agenda pertandingan ujicoba atau friendly game yang kontinyu, serta menambah frekuensinya.

Jika pelatih digaji Rp 50 juta satu bulan sekali, namun timnas jarang 'nongol', publik pasti akan geleng-geleng kepala juga. Bedanya, geleng-geleng yang satu ini bukan cuma pertanda tak percaya tapi juga sebal.
(a2s/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads