Adanya standar Manual K yang membuat klub mau tak mau mulai melakukan pembenahan, berimbas pada kelangsungan klub itu sendiri. Ketidak mampuan mereka untuk mengelola pendanaan secara mandiri, mengakibatkan klub kelimpungan.
Masalah tersebut ternyata tak membuat Direktur Kompetisi BLI, Joko Driyono pusing. Bahkan ia mengaku tak perduli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diketahui, sebelumnya sumber pendanaan klub selama ini berasal dari APBD, dan Manual K mengharuskan klub berbadan hukum dengan potret komersial. Dengan kata lain, klub harus bisa 'menghidupi' dirinya sendiri dan profesional pastinya.
"Kalau klub tidak ingin profesional, ya berarti mereka tidak membutuhkan BLI. Simpel 'kan?" tegasnya yang tidak ingin kinerja BLI terganggu oleh masalah-masalah politis.
Lebih lanjut Joko menambahkan bahwa proses lisensi ini serta perbaikan-perbaikan di dalamnya, sebenarnya merupakan jalan untuk membuat klub dan liga sepakbola Indonesia menjadi lebih maju.
Ketika disinggung apakah 'ketidakakuran' nantinya dapat mempengaruhi persepsi publik, ia menanggapinya dengan santai.
"Saya tidak perduli. Ini bukan hanya untuk satu atau dua tahun ke depan lho. Saya yakin tidak akan ada improvement bagi klub itu sendiri kalau mereka tidak mengikutinya," pungkasnya. (a2s/krs)











































