Berbatov Deskripsikan Karakternya

Berbatov Deskripsikan Karakternya

- Sepakbola
Rabu, 10 Sep 2008 13:50 WIB
Berbatov Deskripsikan Karakternya
Manchester - Hari Sabtu depan Dimitar Berbatov akan tampil untuk pertama kalinya dengan seragam "Setan Merah". Ia mengaku, seseorang seperti dirinya takkan menghardik pemain lawan. Seperti apa karakter dia?

Dalam situs The Sun penyerang internasional Bulgaria itu menuturkan hal-hal pribadi tentang dirinya. Ia misalnya mengaku pernah menjadi orang yang sombong, merasa dirinya hebat. Tapi sifat itu sudah dienyahkan.

β€œAku banyak melakukan hal-hal bodoh karena sifatku yang keras kepala, hanya karena aku tidak ingin mendengarkan nasehat orangtua," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi kemudian mereka memang selalu benar. Ayahku selalu mengatakan padaku untuk tidak besar kapala. Dia sering mengulang nasehat demikian, dan itu masih membantuku."

"Sering aku merasa malu karena kelakuanku sendiri. Aku sering pamer dengan kenyataan bahwa aku seorang Dimitar Berbatov. Lalu aku selalu mendengar suara ayahku di kepala."

Pemain yang dibeli MU seharga 30,75 juta poundsterling itu juga merasa yakin dirinya takkan kena damprat Sir Alex Ferguson yang terkenal dengan perlakuan hairdryer-nya. Kenapa pede, itu karena Berbatov merasa sosok yang baik.

"Lagipula, aku religius dan senantiasa membawa Injil ke manapun aku pergi. Di situ banyak saran-saran yang bagus buat seseorang seperti aku."

Berbatov juga mengaku takkan mencela pemain lawan jika bertanding, sebagaimana ia berusaha untuk tidak bersumpah serapah sehari-harinya. Ia bilang, kalimat yang paling anti ia ucapkan adalah da mu eba maikata (**** your mother).

"Aku mencoba semua hal dengan style, tidak hanya di sepakbola. Kalau aku bisa menjadi contoh positif buat anak muda, itu bagus," sambung pria yang selalu tampak klimis di dalam dan luar lapangan itu.

"Jujur saja, kadang-kadang aku suka 'panas' saat di lapangan. Aku bahkan sering meneriakki rekan-rekan setim, dan mereka jadi sedikit marah. Tapi inilah aku.”

"Aku sering berkata pada mereka, 'Kawan, no problem, kamu pun bisa meneriakki aku kalau ada yang salah! Aku takkan marah. Tapi kalau pertandingan selesai, ya selesai'."

"Tapi terkadang beberapa dari mereka mengambil hati dan tetap marah padaku. Mereka tidak menyadari bahwa inilah caraku melepas stres," pungkas Berbatov.

Ehem.
(a2s/key)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads