The Lilywhites mengawali langkah mereka di Premier League dengan hasil yang tak bisa dibilang menyenangkan. Melewati delapan laga, mereka enam kali kalah dan dua kali meraih hasil imbang. Tak satupun dari partai itu berakhir dengen kemenangan.
Imbasnya, Ramos pun dilengserkan dari jabatannya--beserta Direktur Sepakbola Damien Comolli. Ironisnya, ketika manajer asal Spanyol itu turun dan digantikan oleh Harry Redknapp, Spurs langsung memetik angka penuh dengan menundukkan Bolton Wanderers 2-0.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masa pra-musim merupakan guncangan bagi tim dengan berbagai perubahan yang terjadi, sehingga membuat kami tak bisa bekerja dengan jelas. Seharusnya persiapan di pra-musim berjalan dengan tenang," ujarnya di Setanta Sports.
"Sementara itu, pemain muda yang baru didatangkan memerlukan proses adaptasi untuk matang. Sesuatu yang tak mengizinkan kami menjalani ketatnya kompstisi sejauh ini."
"Labih lanjut lagi, Robbie Keane dan Dimitar Berbatov adalah contoh dari kualitas, teknik, dan efisiensi. Kepergian mereka merupakan kehilangan besar bagi skuad," ungkapnya.
"Semua itu membuat situasi seperti ini terjadi. Saya harap segalanya bisa segera berubah karena fans klub ini berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik."
Rentetan hasil buruk itu membuat catatan bagus Ramos di akhir musim lalu seperti terlupakan. Mantan manajer Sevilla itu sukses menghadirkan trofi juara ke lemari Spurs dengan menjuarai Piala Carling. Perlu diingat itu merupakan titel pertama klub asal London Utara itu setelah sembilan tahun tanpa gelar.
"Saya sangat sadar dengan peraturan di dunia sepakbola. Saya sudah berada di dunia itu selama 20 tahun. Jadi, saya menerima nasib saya yang telah diputuskan oleh petinggi Spurs. Tetapi, saat ini adalah waktu untuk mengucapkan 'adios' kepada seluruh keluarga Spurs."
(roz/ian)











































