Mari kita berandai-andai. Bayangkan jika dulu Fulham bisa mereka taklukkan dan bukannya malah kalah 0-1. Andai Hull City bisa mereka kandaskan, bukan malah takluk 1-2. Atau andaikan mereka tak kalah 1-2, 0-2 dan 0-3 dari Stoke City, Aston Villa dan Manchester City, pencapaian Arsenal kini pasti sudah nyaris sempurna.
Ya, jika Manchester United dan Chelsea saja bisa mereka tundukkan, maka tim yang relatif lebih kecil pun seharusnya juga demikian. Andai saja tim-tim yang relatif lebih kecil itu bisa mereka taklukkan, bukan tak mungkin peringkat The Gunners kini lebih baik dari hanya sekadar posisi empat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, jika benar-benar ingin menjadi juara Premier League musim ini, Arsenal tidak boleh hanya jago menaklukkan tim besar. Masih ada sederet tim papan tengah dan bawah yang menanti untuk mereka hadapi dan jumlahnya jelas lebih banyak dari tim Big Four.
Wenger mengatakan bahwa kekalahan timnya dari Villa dan City merupakan sebuah bentuk nyata dari ketidakberuntungan. The Villans dan The Citizens disebut manajer asal Prancis itu sedang dalam performa terbaiknya dan Arsenal tengah sial karena harus menghadapi tim yang tengah on fire.
Lalu, bagaimana jadinya bila Arsenal sial terus karena tim yang bukan favorit tengah on fire ketika mereka hadapi? Kekalahan seperti melawan Villa dan City bisa terulang lagi, bukan?
Arsenal sudah lama tak meraih gelar bergengsi. Trofi akbar yang terakhir kali mampir ke markas mereka hanyalah Piala FA tahun 2005. Kalau mereka benar-benar merindukan trofi juara Premier League, kelabilan performa ini sudah seharusnya diakhiri.
Tiga pekan ke depan adalah saat yang tepat untuk membuktikan konsistensi mereka. Berturut-turut mereka akan berhadapan dengan Wigan Athletic, Middlesbrough dan Liverpool. Akankah Arsenal masih angker bagi sesama tim Big Four dan lemah terhadap yang bukan favorit? Atau mereka berhasil mengubah pola dan menyapu bersih semuanya dengan kemenangan? Entahlah, kita nantikan saja.
(roz/a2s)











































