Soal gangguan apa yang bisa diberikan The Reds untuk rivalnya itu adalah menyangkut level kesempatan Cesc Fabregas dkk dalam kompetisinya merebutkan gelar juara Premiership di akhir musim.
Analisis AP menulis, jika Arsenal sampai kalah dalam laga di Emirates Stadium, Minggu (21/12/2008), maka kans mereka relatif makin kecil. Ukurannya adalah jarak sebelas poin dengan Liverpool sebagai pemuncak klasemen sementara terlalu besar. Walaupun kompetisi masih panjang, tapi secara psikologis beban Arsenal menjadi semakin besar, walaupun bukannya tidak mungkin di atasi. Masalahnya, itu baru bisa jika Liverpool, Chelsea dan Manchester United juga sering mengalami gangguan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara historis Arsenal pernah mengusik bahkan menghancurkan perasaan Liverpudlians, tepatnya di musim 1988-1989. Mereka dengan dramatis membuyarkan rencana pesta juara Liverpool, dan menjadikan pesta itu menjadi milik mereka.
Ceritanya, di pekan terakhir liga musim itu, Liverpool hanya perlu tertindar dari kekalahan dua gol untuk memastikan gelar juara. Bagusnya, mereka memainkan laga pamungkas itu di markas kebesarannya, Anfield.
Apa yang terjadi kemudian? Arsenal menundukkan mereka dengan skor 2-0 lewat gol-gol Alan Smith dan Michael Thomas. Celakanya lagi, gol neraka buat Liverpool itu terjadi di menit terakhir!
Imbasnya di klasemen akhir, kedua tim sama-sama mengumpulkan nilai 76, selisih gol keduanya pun sama (plus 37). Arsenal jadi juara hanya karena mereka lebih produktif dalam mencetak gol.
Itulah salah satu puncak kompetisi paling dramatis dalam sejarah Liga Inggris. Liverpool terhenti dalam upayanya meraih gelar juara ketiganya dalam empat tahun, sedangkan Arsenal merengkuh trofi pertamanya sejak 1971.
(a2s/arp)










































