Adams adalah pemain yang pernah mencicipi besutan Wenger Arsenal. Di klub itulah dia membaktikan seluruh karir sepakbola profesionalnya dan juga menjabat sebagai kapten, sebelum akhirnya gantung sepatu tahun 2002 lalu.
Pada akhir pekan ini, Adams berpeluang unjuk gigi di depan eks manajernya, Wenger. Sial buat Adams, timnya justru sedang tak mengesankan. Dua kekalahan berturut-turut di ajang Liga Primer diderita Pompey, dengan yang terakhir terjadi pada Boxing Day saat ditekuk West Ham 4-1.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tegaskan, saya ingin semuanya mengikuti saya dan memberikan segalanya bagi Portsmouth. Bila pikiran Anda tidak berada di sini, silakan hengkang dan saya sangat berterima kasih atas kontribusinya selama ini," tambah Adams.
Kurang bagusnya performa Pompey tentu bisa dimanfaatkan kubu Arsenal untuk meraih angka penuh. Namun, kondisi itu tak serta merta dimanfaatkan Wenger untuk menebar psy-war yang bikin Adams kian "gerah" sehingga berpotensi lebih mudah kalah.
"Adams bisa menjadi manajer tim yang hebat. Dia memiliki persyaratan untuk itu semua. Adams pemimpin yang hebat. Tapi harus diakui, ada perbedaan antara menjadi kapten tim dengan menjadi manajer," ujar Wenger diplomatis di BBC.
Yang pasti, pertemuan guru dan murid ini takkan berlangsung adem-adem saja. Kedua tim butuh tiga angka, apalagi Arsenal tengah berupaya terus menjaga kans jadi juara.
"Kami punya satu keinginan: mengalahkan Portsmouth di Emirates pada hari Minggu," kata Wenger.
(krs/krs)











































