Scolari dipecat setelah Chelsea tidak menuai hasil positif dalam beberapa partai terakhir. Data Opta yang dilansir Sky Sports menyebut Scolari cuma bisa empat kali mengantar Chelsea pada kemenangan dalam 12 laga Liga Primer terakhir.
Hasil tersebut jelas bukan torehan memuaskan. Ini juga yang membuat dirinya sebagai manajer dengan catatan terburuk semenjak Abramovich mengambil alih Chelsea Juni 2003 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada musim 2003/04, Chelsea sudah merengkuh 55 angka dari 25 partai pertama Liga Primernya dan mengakhiri musim di posisi dua. Semusim setelahnya, 64 angka diraup di 25 laga awal dan Chelsea lantas jadi jawara di akhir musim.
Poin terbanyak dalam 25 liga awal di Liga Primer dicatat pada musim 2005/06 saat Chelsea mengoleksi 66 poin, untuk terus melaju mempertahankan mahkota juara liga.
Terjadi penurunan pada musim 2006/07 dan 2007/08, kendati dari 25 laga awal di dua musim tersebut Chelsea masih mampu mendulang 54 poin untuk kemudian sama-sama jadi runner-up di akhir musim.
Bersama Scolari musim ini, Chelsea cuma bisa membukukan 49 poin dari 25 laga, hasil dari 14 kemenangan, tujuh kali imbang dan empat kali kalah. Chelsea-nya Scolari tak mampu menembus 50 poin.
Apa kendala Scolari sehingga dia tak bisa mengikuti para pendahulunya? Ketidakmampuan mereguk poin penuh saat tampil di Stamford Bridge.
Seperti telah diketahui, di bawah penanganan Scolari-lah rekor kandang Chelsea terhenti. Secara total, John Terry cs bahkan sudah membuang 16 poin di kandang sendiri karena sejumlah kekalahan dan hasil imbang di Stamford Bridge.
Buang-buang poin di kandang Chelsea ini adalah yang terbanyak di antara tim lima besar klasemen Premiership lainnya. Aston Villa tercatat membuang 15 poin di kandang, diikuti Arsenal (12), Liverpool (10) dan Manchester United (2).
Kalau itu yang jadi pertimbangan, rasanya dapat dipahami kenapa para petinggi Chelsea kecewa, tidak puas dan kemudian mendepak Scolari. (krs/key)










































