Hiddink Hebat di Timnas, di Klub?

Hiddink Hebat di Timnas, di Klub?

- Sepakbola
Kamis, 12 Feb 2009 12:08 WIB
Hiddink Hebat di Timnas, di Klub?
Jakarta - Guus Hiddink dikenal sebagai Raja Midas yang sentuhan tangannya bisa mengubah apapun menjadi emas. Dia terbukti hebat di level timnas. Chelsea akan menjadi pertaruhannya main di klub besar di kompetisi besar.

Hiddink menguatkan hegemoninya di dunia pelatih sepakbola ketika membuat tim Asia Korea Selatan tampil impresif di Piala Dunia 2002. Dunia tertegun sekaligus takjub ketika tim "kemarin sore" di belantikan sepakbola dunia itu mampu melaju hingga semifinal.

Tapi sesungguhnya prestasi Hiddink sudah mentereng jauh-jauh hari. Empat tahun sebelumnya, misalnya, Belanda dia bawa ke babak semifinal Piala Dunia 1998, dan itu adalah capaian terbaik "Singa Oranye" sejak memenangi Piala Eropa 1988 dan semifinalis Euro 1992.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selepas menukangi Korea, Hiddink kembali ke klub yang pernah ia tangani di awal karirnya sebagai pelatih: PSV Eindhoven. Dan ia kembali menorehkan prestasi. PSV dibawanya hingga perempatfinal Liga Champions 2006, dan di akhir musim 2005/2006 tampil sebagai juara Liga Belanda.

Di tahun yang sama, bekerja dobel untuk timnas Australia sejak Januari 2005, Hiddink juga membawa Negeri Kanguru mencicipi Piala Dunia pertamanya, dan bertahan sampai pada babak kedua di Jerman 2006.

Juga jangan lupakan kiprahnya saat membawa Rusia tampil menawan di Euro 2008 lalu, saat "Beruang Merah" menembus babak semifinal. Gara-gara dia, Rusia memenangi kompetisi di babak kualifikasi dan membuat tim seelit Inggris gagal melaju ke Austria-Swiss.

Bagaimana di level klub? Pelatih berusia 62 tahun ini memang sukses membawa PSV meraih enam titel Eredivisie (1986-87, 1987-88, 1988-89, 2002-03, 2004-05, 2005-06). Namun, Liga Belanda dipandang sebagai kompetisi kelas dua di Eropa, masih di bawah Liga Inggris, Spanyol, Italia, bahkan Jerman dan Prancis.

Hiddink pernah berkarir di Liga Spanyol. Saat menangani Valencia pada 1991-1994, ia tidak memberikan satu gelar pun. Ia hijrah ke Negeri Matador setelah satu musim melatih Fenerbache (1990-1991) dan dia tidak pulaΒ  memperoleh trofi.

Selepas Piala Dunia 1998, Real Madrid menunjuknya sebagai pelatih, menggantikan Jupp Heynckes yang dipecat. Di akhir tahun itu ia memberi Piala Interkontinental buat El Real, tapi di bulan Februari 1999 dipecat karena hasil yang buruk di kompetisi domestik.

Setahun kemudian Hiddink masih "laku" buat klub Spanyol dan diminta melatih Real Betis. Hasilnya? Ia tak lama bertahan dan lagi-lagi dipecat, persisnya di bulan Mei 2000.

Kini ia menjajal lagi kemampuannya di sebuah kompetisi elit: Premier League. Dan Chelsea adalah tempat pembuktian dia selanjutnya. Pertanyaannya adalah, prestasi apa yang bisa ditorehkan Hiddink untuk klubn kaya raya dari London itu?

Kita tunggu saja.

(a2s/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads