Sebelum hijrah ke MU di tahun 2008, si kembar Rafael dan Fabio adalah pemain yunior di Fluminense. Pada periode itulah, tepatnya tiga tahun lalu ketika keduanya masih berusia 15 tahun, godaan datang.
Seorang agen, yang mengaku mewakili Arsenal, membujuk keduanya untuk hijrah ke klub London tersebut saja. Padahal ketika itu Fluminense dan MU sudah punya kesepakatan tersendiri mengenai Rafael dan Fabio.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi pria itu ingin membawa kami ke Inggris dan tak bilang-bilang ke Fluminense. Kami tak setuju dengan hal itu. Fluminense adalah di mana kami memulai (karir sepakbola), kami sudah ada di sana selama tahunan dan mereka menjaga kami," lanjut Rafael.
Pada akhirnya, Rafael dan Fabio memilih tetap setia dengan Fluminense dan menghormati perjanjian klub tersebut dengan 'Setan Merah' yang saat ini sudah mereka bela. Rafael menyebut sang ibu jadi faktor penting dalam keputusan tersebut.
"Kami bisa saja ke sana (mengikuti bujukan) dan kemudian mengambil semua uangnya, dan Fluminense tak dapat apa-apa. Tapi ibu kami bilang, 'Tidak, Fluminense sudah baik dengan kalian. Kalian di sana sejak usia 11. Aku ingin kalian melakukannya dengan benar'."
"Jadi kami bilang akan bermain untuk Manchester karena itu adalah yang terbaik buat kami dan Fluminense. Jadi kami teken kontrak dan mengacuhkan pria yang membujuk kami ke Arsenal," kenang Rafael.
Perkara apakah "pria penggoda" itu benar-benar pemandu bakat dari Arsenal sebenarnya juga masih misterius. Disebutkan The Sun, tak ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa dia memang mewakili kubu Emirates.
(krs/din)











































