MU mengalami dua kali kekalahan beruntun di Liga Primer, masing-masing atas Liverpool dengan skor 1-4 (14/3/2009) dan atas Fulham dengan angka 0-2 (21/3/2009). Dalam dua laga itu, tiga pemain MU menerima kartu merah. Nemanja Vidic dalam laga kontra Liverpool, kemudian Paul Scholes dan Wayne Rooney ketika bertandang ke Fulham.
Khusus untuk laga melawan The Cottagers, Parker kecewa dengan sikap bintang MU CR7. Parker menilai, beberapa kali Ronaldo berusaha memprovokasi pemain lawan dan juga mempengaruhi wasit. Kondisi tersebut disebutnya sama sekali tak menolong tim yang tengah dalam posisi tertekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam pertandingan, tidak dibutuhkan kuda poni yang manis. Pertandingan ini hanya untuk kuda yang kuat," tambah pemain MU periode 1991 hingga 1996 ini.
Parker menegaskan bahwa setiap para pemain MU harus menganggap setiap laga merupakan laga hidup dan mati. Ia membandingkan kala The Red Devils menghadapi Swindown di musim kompetisi 1993/94. Saat itu bintang "Setan Merah" Eric Cantona harus menerima kartu merah.
"Main sepuluh orang merupakan titik lemah. Namun para pemain tetap tegar dan akhirnya kami bisa mencetak gol penyama skor. Kami menyingsingkan lengan baju dan mendapat hasilnya," tutur pria yang saat masih aktif bermain menempati posisi bek kanan itu.
Parker menilai, tim besutan Sir Alex Ferguson memerlukan kehadiran seorang pemain senior yang bisa memberikan kepemimpinan sekaligus menenangkan banyak darah muda di skuad The Red Devils. Dan itu bisa didapat dalam diri Gary Neville.
"Saat ini, United membutuhkan Gary Neville. Saya pikir dia bisa bersikap lebih baik daripada Cristiano. Bukan dalam hal fisik, namun Gary bisa berkata pada seluruh rekan satu tim bahwa mencoba memprovokasi lawan dan mempengaruhi wasit tidak akan berguna," pungkasnya.
(nar/din)











































