Drogba cukup redup sinar kebintangannya di awal musim karena cedera dan performanya tak cepat menonjol. Maka ketika Anelka tampil lebih tajam, pelatih kala itu, Luiz Felipe Scolari, pun cenderung menomorsatukan penyerang Prancis tersebut.
Di saat itulah muncul kabar-kabar spekulatif tentang Drogba. Ia sering diisukan bakal meninggalkan Stamford Bridge, bahkan konon sempat bertemu pula dengan pihak Inter Milan di sebuah restoran di London.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enam menit menjelang babak kedua berakhir, Droba berlari kencang untuk memburu umpan jauh Frank Lampard. Kecepatan dan kekuatan fisik membuatnya bisa mengalahkan Mikael Silvestre. Kiper Lukasz Fabianksi pun ia gocek saat menyongsong, dan gol dari dia itu membuat The Blues menang 2-1.
"Setiap minggu, setiap pertandingan yang luar biasa, dia memberi begitu banyak. Tim ini sedang menyuguhkan banyak hal, tak cuma Drogba. Tapi Drogba adalah akhir dari pembuatan ini dan kita tak bisa selalu menilai seorang striker dari gol-golnya, karena dia bisa melakukan banyak hal untuk tim. Tak selaluΒ mencetak gol, tapi amat pasti dan menentukan."
Demikian Hiddink panjang lebar memberi pujian khususnya pada penyerang berusia 31 tahun itu, yang juga disebutnya sebagai sosok pekerja keras. Satu hal, fans Chelsea kini sudah sering melihat lagi Drogba yang cerah wajahnya.
"Saya belum pernah melihat dia tidak bahagia. Dia tersenyum. Saya suka melihat begitu," cetusnya.
"Kami punya skuad yang bagus. Di bangku cadangan pun kami memiliki pemain-pemain yang saya ingin pula memainkan mereka. Jadi, mereka tentu tak senang sepenuhnya. Tapi ketika mereka memperkuat tim besar, mereka tentu tahu ada kompetisi. Anda harus membuat komitmen dan kontribusi. Drogba pernah ada dalam posisi di mana dia tak sering main. Jadi, wajah saja kalau Anda tidak tersenyum setiap hari." (a2s/krs)











































