Hiddink Menyesal Tak Bertemu MU

Hiddink Menyesal Tak Bertemu MU

- Sepakbola
Minggu, 31 Mei 2009 08:14 WIB
Hiddink Menyesal Tak Bertemu MU
London - Guus Hiddink dengan ria gembira berpisah dengan Chelsea, setelah ia mempersembahkan Piala FA untuk klub tersebut. Yang ia sesali adalah tidak adanya kesempatan menjajal Manchester United.

Dari total 22 pertandingan sejak ditunjuk menggantikan Luiz Felipe Scolari pada pertengahan Februari, Hiddink bertemu dengan dua dari tiga pembesut rival Chelsea di kelompok The Big Four di Inggris.

Ia berduel dua kali dengan bos Liverpool Rafael Benitez di perempafinal Liga Champions. Hasilnya, ia menang 3-1 di Anfield dan seri 4-4 di Stamford Bridge.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan profesor Arsenal, Arsene Wenger, Hiddink juga mendulang kesuksesan. Pada pertandingan Liga Inggris di Emirates Stadium 10 Mei lalu, The Blues pimpinannya menang telak 4-1.

Yang tidak dijumpai Hiddink adalah MU dan Sir Alex Fergusonnya. Saat masih ditukangi Scolari, Chelsea ditahan 1-1 di Bridge dan digebuk 0-3 di Old T rafford.

Kesempatan itu nyaris didapatkan Hiddink kalau saja Chelsea tidak disingkirkan Barcelona di babak semifinal Liga Champions. Kegagalan di leg kedua yang kontroversial itulah yang disebut meneer berusia 62 tahun itu sebagai satu-satunya kekecewaan dia di Inggris.

"Akan lebih sempurna kalau kami ada di sebuah tempat beberapa hari lalu, bermain di sebuah final besar lainnya," ujar Hiddink merujuk pada hari ketika MU berduel melawan Barcelona di final Liga Champions di Roma.

"Itulah satu-satunya penyesalan saya. Saya ingin sekali bertanding melawan Manchester United di final Liga Champions, tapi itu tidak terjadi."

Hiddink meninggalkan Chelsea dengan kenang-kenangan berupa Piala FA. Ia mempersembahkannya setelah membawa John Terry dkk memenangi final melawan Everton, Sabtu (30/5/2009) malam WIB. Kebobolan lebih dulu oleh gol Louis Saha di menit pertama, mereka berbalik menang 2-1 lewat gol-gol Didier Drogba dan Frank Lampard.

"Anak-anak tahu cara bereaksi jika tertinggal lebih dulu. Ini sebabnya saya menyukai mereka. Ini tak sekadar pekerjaan buat saya, tapi lebih dari itu. Ini adalah salah satu petualangan terbesar saya, pencapaian yang sangat besar: memenangi Mekkah-nya sepakbola dunia. Piala FA adalah sesuatu yang tak bisa Anda percayai," tuturnya seusai pertandingan, dikutip dari Reuters.

"Saya merasakan kesedihan harus pergi, karena sikap semua orang sangat luar biasa. Sebaliknya, pergi dengan piala memberikan sebuah kepuasan. Ini cara paling baik. Dengan sebuah piala Anda bisa lebih mengucap selamat tinggal dengan lebih mudah." (a2s/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads