Cerita pertama, gol itu membuat Chelsea berbalik memimpin, dan kemudian memastikan kemenangannya. Everton membongkar jala Petr Cech terlebih dulu di menit pertama, sebelum disamakan Didier Drogba di menit 21.
The Blues menang 2-1 dan mereka tidak bertangan hampa gelar di musim ini. Itulah Piala FA kelima yang pernah diboyong anak-anak London Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gol yang luar biasa dari Lamps," puji kapten Chelsea John Terry seusai pertandingan, seperti dikutip dari AFP.
"Dia pemain besar dan dia mencetak banyak gol. Itulah yang tadi dia lakukan," pelatih Everton David Moyes mengamini pujian Terry pada gelandang bernomor punggung 8 itu.
Bosnya, Guus Hiddink, tak lupa mengiyakan. "Dia tahu kapan harus mengantarkan sebuah titik balik. Dia ada di setiap momen-momen besar. Pemain-pemain besar membuat perbedaan di pertandingan-pertandingan final dan dia menunjukkannya lagi di waktu yang tepat. Itulah penanda buat seorang pemain kelas dunia."
Cerita ketiga, begitu bola bersarang di jala Howard, Lampard merayakannya dengan dua gaya selebrasi. Pertama, ia mengitari sebuah tiang bendera di pojok lapangan. Kedua, ia membuat simbol 2 dan 0 dengan jari-jari tangannya. Apa maksudnya?
Soal berputar-putar di sudut lapangan, rupanya Lampard terinspirasi pada apa yang pernah dilakukan ayahnya, Frank Lampard (senior), di tahun 1980, ketika dia mencetak gol kemenangan untuk West Ham United dalam partai ulangan semifinal Piala FA, juga atas Everton.
"Saya memang berniatΒ melakukan itu kalau bikin gol. Ayahku bergaya seperti itu waktu melawan Everton, dan itu bukannya bermaksud tidak hormat. Saya meniru dia," paparnya.
"Ayahku memang terkenal dengan gayanya berlari pelan ke bendera pojok dengan kaos kaki melorot. Saya ingin begitu juga."
"Ya, saya pun menunjuk ke angkasa sebagai penghormatan buat almarhum ibuku. Saya yakin, dia tertawa (melihat selebrasi ini)," sambung Lampard, menyebut ibunya yang meninggal dunia tahun lalu.
Tentang simbol angka 2 dan 0 dengan jari jemarinya, Lampard menunjukkan sebuah statistik yang fantastis. Gol itu memastikan gelandang berusia 30 tahun itu selalu mencetak minimal 20 gol dalam empat musim terakhir dengan seragam "Si Biru".
Situs resmi Chelsea mencatat, hanya Drogba dan Thierry Henry (eks Arsenal) di antara pemain-pemain top yang pernah menghasilkan gol lebih banyak selama tiga musim berturut-turut atau lebih, dan mereka adalah pemain menyerang alias striker.
Dari 20 gol yang dibuat Lampard, 12 di antaranya dihasilkan di Premier League, sisanya di Liga Champions, Piala Carling, dan Piala FA (termasuk di final tadi malam). Lampard telah terpilih sebagai pemain terbaik Chelsea di musim ini. (a2s/a2s)











































