Tajamnya The Gunners

Tajamnya The Gunners

- Sepakbola
Kamis, 27 Agu 2009 08:44 WIB
Tajamnya The Gunners
London - Ketiadaan Emmanuel Adebayor sepertinya tidak berpengaruh pada kekuatan lini depan Arsenal. Faktanya, sejauh ini penyerangan The Gunners terlihat begitu tajam dalam sebuah sistem yang bukan baru.

Arsenal boleh dinilai sebagai salah satu tim paling impresif sejak roda kompetisi liga-liga Eropa musim ini bergulir. Mereka tampil ciamik di Premier League, dan juga menjanjikan di (babak kualifikasi) Liga Champions.

Dari empat laga yang telah dilakoni -- dua di lokal, dua di Eropa -- mereka selalu memenanginya. Plusnya adalah mereka melesakkan banyak gol. Dengan total 15 gol, berarti rata-rata satu game mereka mencetak tiga gol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di musim panas ini 'Gudang Peluru' kehilangan seorang penyerang topnya, Adebayor, yang hijrah ke Manchester City. Mereka tak merekrut striker pengganti, bahkan sejauh ini baru membeli satu pemain, yakni bek asal Belgia, Thomas Vermaelen.

"Untuk tim manapun, Anda pasti ingin mencetak banyak gol. Kami terorganisasi dan terstruktur untuk menyerang. Harga yang mesti kami bayar adalah kadang-kadang kami kebobolan banyak gol juga. Tapi selama kami mencetak gol, kami tak terlalu mengkhawatirkannya," tutur manajer Arsene Wenger setelah timnya menang 3-1 atas Celtic di playoff Liga Champions di Emirates Stadium, Kamis (27/8/2009) dinihari WIB.

Tentang resep racikannya yang terasa tajam itu, Wenger mengatakan bahwa tidak banyak perubahan yang dilakukan dari musim-musim sebelumnya. Mereka tetap melakukannya dalam sistem formasi 4-3-3. Hanya saja peningkatannya mulai tampak.

"Saya percaya, pertahanan kami sebagai sebuah unit sudah lebih baik. Sistemnya tidak sangat baru. Kami sering memainkan yang seperti itu sebelumnya. Saat ini, semua berjalan dengan baik buat kami. Kami punya tes lain untuk dilihat pada Sabtu sore (akhir pekan ini melawan Manchester United)."

Duel melawan MU nanti adalah yang pertama kalinya sejak mereka bertempur di semifinal Liga Champions musim lalu. Ketika itu Arsenal dua kali kalah: 0-1 di Old Trafford dan 1-3 di Emirates Stadion.

"Kami memakai sistem itu juga di Liga Champions melawan MU, tapi waktu itu sama sekali tidak berhasil. Apa yang berubah? Saya merasa, di Premier League kami lebih berani (mengambil risiko) dan lebih sering menyerang. Di Liga Champions, waktu itu kami terlalu pasif. Ini lebih soal mental ketimbang taktik," paparnya. (a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads