Silih berganti manajer datang dan pergi di klub-klub Liga Primer Inggris. Nyaris tak ada manajer yang bisa terus bertahan di satu klub saja selama bertahun-tahun.
Hal itu tidak berlaku di Arsenal. Bersama-sama dengan Sir Alex Ferguson di Manchester United, Wenger masih awet duduk di posisinya setelah tahun-tahun bergulir. Kalau Fergie ada di MU sejak 1986, Wenger sudah bersama Arsenal sedari 1996.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari segi lain, Wenger juga sudah memperlihatkan mental baja. Dia tak tergerus dengan datangnya manajer-manajer baru, juga siap melakukan perang psikologis dengan siapa saja. Itu semua tampaknya adalah hasil dari pelajaran yang dia petik di masa kecil.
Semasa masih bocah, orangtua Wenger kecil memiliki sebuah bistro --sejenis kedai-- bernama La Croix d'Or di sebuah desa kecil Prancis, Dutlenheim. Selama berjam-jam dia biasa mencermati para penggila sepakbola desa berinteraksi dan belajar dari sana.
"Tak ada pelajaran psikologis lebih baik dari tumbuh di sebuah kedai minuman, karena saat Anda berusia lima atau enam tahun maka Anda akan bertemu dengan berbagai jenis orang dan mendengar betapa mereka bisa saling mengucapkan kata-kata kasar," kenang Wenger di Reuters.
"Anda mendengar cara mereka bilang ke satu sama lain, 'Kamu tukang bohong.' Dan dari usia dini Anda mendapat pelajaran psikologis praktis mengenai benak orang-orang. Di desa kecil tak lazim seorang bocah berusia lima atau enam tahun selalu bergaul dengan orang dewasa."
Dari segi strategi, Wenger juga mendapat pelajaran pertama dari obrolan para analis amatir di La Croix d'Or. Hal itu yang lantas berproses sampai kini dia bahkan bisa dijuluki 'Si Profesor'.
"Aku bahkan belajar tentang taktik dan pemilihan pemain dari orang-orang yang bicara mengenai sepakbola di kedai.. siapa yang mesti main di sayap kiri dan siapa yang harusnya ada dalam tim," demikian Wenger.
(krs/key)










































